Kisah Tiga Puluh Tahun Lalu

 
Cerita, Tantangan MaGaTa

Aroma karbol tersisa dari lantai beranda belakang bangsal anak. Pintu-pintu berkaca bening kususuri. Pandanganku lurus ke depan, tak berani melirik. Tanpa suara, aku bergegas melangkah hingga menemukan kamar yang kutuju.

Kubuka pintu, mengucap salam. Sosok itu menjawabnya. Ah, sudah berapa hari kita tidak bertemu, ya? Rindu rasanya. Namun, ibu tampak sibuk mengurusi keperluan adik yang sedang duduk di ranjang putih rumah sakit. 

Aku lantas mengambil tempat. Kukeluarkan selembar karton dan bahan lainnya. Sebagian sudah kukerjakan di rumah. Aku berharap ibu membantuku dengan tugas sekolah seperti biasa, tapi ku tak sampai hati untuk meminta. 

Sesak dada menahan bulir air mata. Setetes dua tetes akhirnya membasahi pipi. Lekas kusapu agar ibu tidak tahu. Kepada siapa aku dapat mengadu? 
Tidak banyak yang aku pahami. Aku hanya tahu ibu dan adik sudah lama tidak di rumah. Kukunjungi tempat ini setiap akhir pekan sehingga kuhafal setiap lurus dan belokannya, setiap tangga dan liftnya, setiap penunjuk arahnya. Ku pun tidak lagi menggunakan pintu depan layaknya pengunjung lain. 

Bukan yang pertama seperti ini. Kadang sebulan lebih rumah sepi tanpa ibu dan adik. Yang terlama adalah tiga bulan sehingga ibu harus menitipkanku di rumah kakakmu agar kegiatan sekolahku tidak terganggu. 

Engkau melewatkan hari pertama sekolahku saat TK karena menunggui adik di rumah sakit. Tanpa aku paham bahwa saat itu adalah awal dari perjalanan panjang ibu berjuang bersama adik. Sebuah perlawanan sengit terhadap penyakit mematikan yang bernama: leukimia.

Hari ini aku berusaha memaknai penggalan kisah hidup tiga puluh tahun yang lalu. Fragmen-fragmen kesedihan, kehampaan berbalut ketabahan, kesabaran, dan kekuatan berseliweran. Jika ada mesin waktu, ingin aku bertanya kepadamu. Bagaimana perasaanmu saat itu? Adakah yang bisa kulakukan untuk membantumu? Perlukah ibu tempat berbagi?

Kupandangi lekat-lekat ketiga anakku yang sedang bermain dari kejauhan. Usia anak keduaku tiga tahun, sama seperti waktu ibu menerima hasil pemeriksaan darah adik. Kubisa bayangkan duniamu runtuh menindih setiap tulang dan sendi tubuhmu. Rasa takut kehilangan pastinya menyeruak, tapi kewarasanmu harus tetap kau jaga. 

Aku yang sekarang mungkin tidak akan sekuat dan setangguh ibu dulu. Ibu menerima suratan takdir dengan ikhlas, tidak menyerah sampai Allah Swt. menetapkan bahwa perjuangan itu sudah cukup. Cukup bagimu dan adik. Cukup juga bagiku dan Ayah.

Hari ini aku menyadari bahwa sesungguhnya guru kehidupan yang paling dekat adalah ibu. Sesuatu yang baru bisa kumengerti setelah tiga anak kulahirkan dari rahimku. Darimu kubelajar juga tentang penerimaan, pengharapan, kepasrahan, keyakinan akan pertolongan Allah Swt. melalui doa-doa panjangmu.

Aku bersyukur kepada Allah Swt. karena telah menjadikan ibu sebagai Ibuku. 

Post a Comment

0 Comments