Tuesday, August 31, 2021

Katakan Tidak Untuk Plagiarisme

 

Di bulan pertama tahun 2014 silam, publik Jepang dihebohkan oleh tembusnya dua artikel ilmiah milik ilmuwan Jepang ke Nature, salah satu jurnal paling bergengsi di bidang sains dan teknologi. Sudah merupakan rahasia umum bahwa yang bisa menerbitkan artikel di sana akan langsung naik kelas, bersanding bersama jajaran ilmuwan top notch dunia. Apalagi topiknya "seksi": sel biasa dapat diubah menjadi sel punca (stem cell) dengan perlakuan stres. Sel-sel ini dinamakan STAP (stimulus-triggered acquisition of pluripotency). Keberhasilan metodenya memberikan harapan akan terwujudnya terapi sel punca untuk kepentingan medis. 


Tidak hanya perihal artikel itu sendiri, publik Jepang terkesima oleh sosok peneliti yang menjadi penulis pertama, Haruko Obokata. Sebagai seorang  wanita, dia laksana berlian di tengah dominasi peneliti pria di Jepang. Semua kualitas baik tampak berkumpul padanya: cerdas, stylish, cantik, tetapi tetap santun khas orang Jepang. Siapa yang tidak dibuat iri bin kagum olehnya?


Namun, lampu sorot media hanya bertahan sebulan saja. Di bulan kedua, laporan soal kejanggalan artikel tersebut mulai terkuak. Tidak ada yang bisa mereproduksi sel yang dimaksud, meski sudah mengikuti prosedur yang dijelaskan di dalam artikelreproducibility adalah syarat mutlak suatu hasil penelitian diterima oleh masyarakat ilmiah.


Tim investigasi pun dibentuk. Bersamaan dengan itu, ada pihak yang melaporkan bahwa dua gambar yang dicantumkan di dalam artikel ternyata diambil dari tesis PhD Obokata di Universitas Waseda. Lebih parahnya lagi, di tesis tersebut Obokata menyalin dan menempel satu paragraf panjang tentang karakteristik sel punca dari situs National Health Institute. 


Tiga bulan setelah investigasi dimulai, Obokata dituduh melakukan plagiarisme, pemalsuan gambar, dan fabrikasi data. Nature menarik kedua artikel milik Obokata dan Universitas Waseda mencabut gelar PhD-nya. Skandal ini tidak hanya memukul Obokata yang kemudian dirawat karena depresi, kepala bagian yang menaungi laboratorium Obokata juga menanggung malu dan memilih gantung diri di tangga kantornyasebuah akhir yang mengenaskan dari suatu penelitian prestisius. 


Bagaimana dengan di Indonesia?


Di sekitar periode waktu yang samakebetulan yang anehtepatnya bulan Februari 2014, dunia akademis Indonesia diguncang oleh kabar penjiplakan yang dilakukan oleh Anggito Abimanyu, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Artikel Abimanyu berjudul "Menggagas Asuransi Bencana" di kolom Opini Kompas dinilai menjiplak tulisan Hotbonar Sinaga berjudul "Gagasan Asuransi Bencana" yang terbit tahun 2006 di media yang sama. Tuduhan plagiarisme ini berhembus setelah muncul sebuah artikel di Kompasiana yang mempertanyakan hal tersebut. 


Selain meminta maaf secara langsung kepada Sinaga, sebagai bentuk komitmen menghargai kejujuran, Abimanyu mengundurkan diri sebagai dosen FEB UGM. Walaupun demikian, dia tidak benar-benar mengakui telah melakukan plagiarismeseperti halnya Obokatamelainkan akibat kelalaian menyimpan fail di komputer sematasebuah keteledoran remeh, tetapi fatal.


Plagiarisme


Dari dua kasus di atas, apa kesamaannya? Ya betul, keduanya terlibat plagiarisme!


Apa sih, plagiarisme? Menurut KBBI daring, plagiarisme (n) berarti penjiplakan yang melanggar hak cipta. Adapun plagiat (n) adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri, jiplakan. Pelakunya disebut plagiator bukan gladiator


Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010, “Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.”


Ilustrasi plagiarisme (sumber: Freepik)


Kita bahas teorinya dulu, ya. 


Ruang lingkup plagiarisme


Untuk menilai apakah tindakan kita termasuk plagiarisme atau bukan, kita perlu mengetahui cakupannya. Situs wikipedia.com memaparkan ruang lingkup plagiarisme yang diambil dari buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah karya Utorodewi, dkk (2007). Suatu perbuatan dikatakan plagiarisme jika:

  • mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,
  • mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri,
  • mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri,
  • mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
  • menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal usulnya,
  • meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
  • meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.


Sebagai tambahan, menurut Panduan Anti Plagiarismharusnya antiplagiarisme, wkwkyang diterbitkan oleh Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, plagiarisme juga mencakup:

  • mengutip kata-kata atau kalimat orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tanpa menyebutkan identitas sumbernya,
  • menggunakan gagasan, pandangan atau teori orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya,
  • menggunakan fakta (data, informasi) milik orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya,
  • menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain seolah-olah sebagai karya sendiri.

Wah, ternyata luas juga, ya. Karena itu, dalam menghasilkan karya tulis, seseorang harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset ke dalam plagiarisme. Yang tidak sengaja saja dilarang, apalagi yang sengaja. Ya, kan?

Tipe-tipe plagiarisme

Ada beberapa tipe plagiarisme. Saya mengambil dari artikel daring di kajianpustaka.com berjudul "Pengertian, Jenis dan Identifikasi Plagiarisme" yang mengutip buku Plagiarisme: Pelanggaran Hak Cipta dan Etika karya Soelistyo (2011). Empat tipe yang disebutkan di sana adalah:

  1. Plagiat ide (Plagiarism of ideas). Karena ide bersifat abstrak, tipe plagiat ini relatif sulit dibuktikan. Lagipula bisa saja, kan, dua orang memiliki ide yang sama dalam satu waktu?

  2. Plagiat kata demi kata (Word for word plagiarism). Pada tipe ini, penulis menjiplak persis kata-kata dari karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Biasanya hal ini terjadi dalam penulisan karya ilmiah. Ada yang merasa pernah melakukannya?

  3. Plagiat sumber (Plagiarism of source). Penulis tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas sumber yang dijadikan rujukan. Jika mengutip dari karya orang lain (penulis kedua) yang dia juga mengutip dari karya penulis lain (penulis pertama), nama penulis pertama juga wajib disebutkan. Ini bagian dari etika juga sih, sebenarnya. 

  4. Plagiat kepengarangan (Plagiarism of authorship). Tipe ini paling tidak tahu diri, menurut saya. Penulis dengan sadar dan sengaja mengakui karya orang lain sebagai karyanya. 

Pola plagiarisme

Di dalam buku yang sama, juga disebutkan beberapa pola plagiarisme. Apa saja?

  1. Plagiarisme total

  2. Plagiarisme parsial  

  3. Autoplagiarisme (self plagiarism)

  4. Plagiarisme antarbahasa

Maksud nomor satu dan dua sudah bisa ditebak lah, ya. Plagiarisme total berarti penulis menjiplak karya tulis orang lain seluruhnya dan mengakui itu sebagai karyanya. Kebangetan nggak, tuh? Teganya … teganya … teganya …. 

Dalam plagiarisme parsial, penulis (hanya) mengambil sebagian dari karya orang lain. Itu bisa berupa pernyataan, landasan teori, sampel, metode analisis, pembahasan, dan atau kesimpulan tertentu tanpa menyebutkan sumbernya. Bisa dikatakan, pada umumnya penulis masuk ke dalam kategori ini. 

Nah, bagaimana dengan nomor tiga dan empat? Menurut saya, autoplagiarisme adalah tipe plagiarisme yang paling "halus”. Penulis mungkin melakukannya dengan alasan, "Itu kan tulisanku juga. Masa' nggak boleh disalin-tempel", padahal ternyata tindakan itu sudah termasuk plagiarisme. Walaupun terkesan janggal saat menuliskan nama sendiri sebagai sumber referensi, penulis harus tetap melakukannya. 

Membaca penjelasan tipe plagiarisme yang terakhir membuat saya mempertanyakan diri sendiri. Jangan-jangan saya pernah melakukannya. Plagiarisme antarbahasa terjadi bila kita menerjemahkan karya tulis dalam bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia tanpa menyebutkan sumbernya. Berhubung biasanya referensi yang saya pakai berbahasa Inggris, bisa jadi dulu saya pernah lalai menuliskan sumbernya. 

Ilustrasi plagiarisme (sumber: Freepik)


Plagiarisme: pelanggaran hukum (hak cipta)  dan etika

Plagiarisme rentan terjadi di dunia akademis. Alasannya, dalam penulisan karya ilmiah, seseorang pasti membutuhkan referensi. Makin kaya referensi yang dipakai, akan makin bagus. Namun, bukan berarti boleh comot sana sini, termasuk mencomot hasil karya sendiri. 

Sampai di sini, kita tentu setuju bahwa plagiarisme adalah bentuk pembajakan karena membajak berarti mengambil hasil ciptaan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizinnya (KBBI daring, 2021). Karenanya, plagiarisme pastilah melanggar hukum sebagaimana tindakan pembajakan di bidang lain. Tidak tanggung-tanggung, menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 sanksi bagi lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan adalah pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). 

Selain itu, ada juga Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2010 yang mengatur sanksi bagi mahasiswa yang terbukti melakukan tindakan plagiat. Sanksinya mulai dari tingkat ringan, berupa teguran, hingga berat, berupa pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa. Untuk mahasiswa yang telah lulus, ijazahnya akan dibatalkan. Sanksi lebih lengkapnya sebagai berikut:

  1. Teguran

  2. Peringatan tertulis

  3. Penundaan pemberian sebagian hak mahasiswa

  4. Pembatalan nilai

  5. Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa

  6. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa

  7. Pembatalan ijazah apabila telah lulus dari proses pendidikan.

Nah, mungkin yang agak berbeda dengan pembajakan pada umumnya, di samping melanggar hukum, plagiarisme juga melanggar etika yang dijunjung tinggi di dunia akademis: kejujuran. Sains dan teknologi itu jujur. Semua fakta dijabarkan dan boleh diuji oleh siapa saja. Bahkan dalam konteks artikel ilmiah, metode yang ditulis harus jelas dan dapat diulang oleh pihak lain untuk memberikan hasil serupa. Maka dari itu, adalah hal yang wajardan memang sudah semestinyakita mendengar seseorang mengundurkan diri dari jabatannya karena terlibat kasus plagiarisme. Well, untuk ukuran orang Jepang sih, salah satu solusinya adalah bunuh diriseperti dalam skandal Obokatakarena tidak kuat menanggung malu. 

Alasan melakukan plagiarisme

Kalau sudah tahu bahwa plagiarisme itu adalah sebuah pelanggaran hukum dan etika, mengapa masih ada saja orang yang melakukannya?

Pertanyaan ini harusnya dijawab dengan survei, hehe …, tetapi berdasarkan Panduan Anti Plagiarism Perpustakaan UGM, ada beberapa faktor pendorong plagiarisme. 

  • Terbatasnya waktu untuk menyelesaikan karya tulisalias dikejar deadline. Makanya jangan suka menunda-nunda! #selftoyor

  • Rendahnya minat membaca dan menganalisis referensi. Jangan males baca, woy! #pasangikatdikepala. 

  • Kurangnya pemahaman tentang kapan harus mengutip dan caranya. Ada nggak sih di matkul TTKI?

  • Kurangnya perhatian guru atau dosen terhadap plagiarisme. Hmm … mungkin perlu ada kelas khusus untuk staf pengajar? Supaya bukan cuma mahasiswa saja yang peduli, dosen juga.

Eh, poin keempat benar terjadi, lo. Salah satu hasil investigasi skandal Obokata mengungkap alasan Obokata melakukan penjiplakan. Katanya praktik tersebut umum di Waseda dan profesornya berkata," ... lagipula tidak ada yang akan membaca tesismu." Yah, walaupun ini benar adanyadan kita juga mengalami, habis lulus langsung menyimpan skripsi di bawah bantalbukan berarti perbuatan menyalin-tempel menjadi boleh.

Ilustrasi plagiarisme (sumber: Freepik)

Tips terhindar dari plagiarisme

Akhirnya kita sampai di bagian terakhir: tips supaya kita terhindar dari plagiarisme. Are you still with me?

Tips yang akan saya berikan sudah saya praktikkan sewaktu menulis tesis magister x (sensor) tahun yang lalu. Kami beruntung memiliki dosen yang sangat peduli tentang plagiarismeterima kasih, Pak. Berikut adalah tipsnya:

  1. Belajar cara mengutip yang benar. Pengutipan ada dua macam: langsung dan parafrase. 

Pengutipan langsung artinya kita mengambil satu (atau lebih) kalimat tanpa mengurangi sedikitpun dari sumber aslinya. Gunakan dua tanda kutip dan cantumkan sumbernya. 

Meski diperbolehkan, terlalu sering melakukan pengutipan langsung juga tidak bagus. Akan lebih baik jika kita melakukan parafrase. Parafrase adalah mengungkapkan ide orang lain dengan kata-kata kita sendiri tanpa mengubah esensi ide tersebut. Percaya, deh, ini butuh latihan.

  1. Selalu cantumkan sumber yang kita pakai sebagai rujukan dengan baik dan benar, lalu tuliskan dalam daftar pustaka di bagian akhir. Ada beberapa gaya penulisan daftar pustaka. Pilih salah satu dan konsisten dengannya. 

Nah, seringkali penulis lupa untuk menuliskan sumber yang lengkap di dalam daftar pustaka, padahal sudah mencantumkannya di bagian isi. Zaman S1 dulu, saya segera menulis semua keterangan di halaman daftar pustaka setelah mengutip di bagian isi. Repot bolak-balik, sih, tetapi wayahna, kata orang Sundaalias, mau gimana lagi. Kemudian saat S2, saya menggunakan Mendeley, sebuah aplikasi pengelola kutipan dan daftar pustaka. Wow, it was really a game changer!

Walaupun saya tidak ingat persisberhubung sudah sekian tahun berlalukurang lebih cara kerjanya sebagai berikut. Untuk yang pernah pakai Mendeley, tolong koreksi kalau ada yang salah, ya. Maklum laptop yang ada aplikasi itu sudah tewas jadi saya tidak bisa kroscek, wkwk …. 

Pertama, kita unggah artikel yang kita mau di aplikasi. Nanti aplikasi bisa langsung mendeteksi judul, penulis, tahun penerbitan, nama jurnal. Kita bisa pilih gaya penulisan daftar pustaka yang kita inginkan. Kedua, menyinkronkan aplikasi dengan Microsoft Word. Dengan begini, setiap kita menulis nama sumber setelah mengutip, keterangan lengkapnya akan otomatis muncul di halaman daftar pustaka. Ketiga, memperbarui tampilan secara berkala.

  1. Gunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme, misalnya Turnitin. Dengan bantuan Turnitin, kita bisa tahu berapa persen plagiarisme karya tulis kita. Kita juga akan tahu di bagian mana, kesamaan/kemiripan terjadi. Canggih, deh.

Penutup

Pembajakan marak terjadi di sekitar kita. Meski ada hukum yang mengatur, penegakannya masih dipertanyakan, termasuk untuk plagiarisme. Apalagi untuk urusan skripsi atau tesis mahasiswa, siapa yang mau memeriksa satu persatu? Akhirnya semua dikembalikan kepada pribadi penulis untuk melakukan pencegahan dari awal. Penulis juga seyogianya mawas diri bahwa plagiarisme adalah satu bentuk pencurian dan pencurian dilarang baik dalam agama maupun secara hukum. Pelakunya akan merasa gelisahjika nuraninya masih bersih. Dia juga pasti akan malu jika ketahuankok, nggak diperlihatkan oleh para koruptor, sih? Kan korupsi juga mencuri. #tanyakanpadarumputyangbergoyang #lalalalala.

Dengan semangat kemerdekaan di penghujung bulan Agustus, saya ingin mengajak teman-teman untuk senantiasa menghargai karya orang lainbaik sudah berwujud maupun masih dalam bentuk idedalam bidang apa pun, tidak hanya karya ilmiah. "Hidup Tanpa Bajakan", seperti tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, adalah prinsip penting yang seharusnya kita miliki. Percaya, deh. Pembajakan tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri. Yuk, hidup tenang dengan mengatakan TIDAK untuk pembajakan!



Sumber: 

Anonim. 2021. Plagiarismehttps://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme, diakses tanggal 30 Agustus 2021.

Goodyear, D. 2016. The Stress test. https://www.newyorker.com/magazine/2016/02/29/the-stem-cell-scandal, diakses tanggal 29 Agustus 2021.

Istiana, P dan Purwoko. 2017. Panduan Anti Plagiarism. http://lib.ugm.ac.id/ind/?page_id=327, diakses tanggal 30 Agustus 2021.

Maharani, S. 2014. Dituding Plagiarisme, Anggito Mundur dari UGM. https://nasional.tempo.co/read/555008/dituding-plagiarisme-anggito-mundur-dari-ugm, diakses tanggal 30 Agustus 2021.

Riadi, M. 2019. Pengertian, jenis, dan Identifikasi Plagiarisme. https://www.kajianpustaka.com/2019/02/Plagiarisme.html, diakses tanggal 30 Agustus 2021.




Tuesday, August 24, 2021

Bingung Memilih Alat Masak yang Tepat? Ketahui Dulu Materialnya!


Sebagai emak-emak, urusan masak-memasak tentu dekat dengan keseharian saya. Walau kemampuan memasak saya masih begini-begini saja, saya tetap ingin mempersembahkan hasil yang paripurna, dong. Pastinya supaya disetujui oleh stakeholder terpenting di rumah, yaitu anak-anak--bapaknya sih tipe semua enak, semua dimakan, alhamdulillah. Karena itu, penting bagi saya untuk mengenal seluk beluk alat perang yang saya gunakan dalam pertempuran di dapur melawan panasnya kompor, uap air, dan cipratan minyak. Apa lagi kalau bukan wajan dan panci. 


Dulu saya cuma mengenal panci dan wajan stainless steel, panci aluminium, dan wajan Teflon. Belakangan muncul jenis-jenis yang lain. Ada panci enamel, panci, wajan keramik, wajan granit dan marble, panci kaca, dan lain-lain. Bedanya apaaa? Harganya yang fantastis--sampai jutaan rupiah--tak ayal membuat saya merasa tersesat di dunia perdapuran. Mau masak aja kok, ribet. Harus riset dulu. Wkwk ….


Nah, makanya begitu ada iklan IG live berjudul "Pilah Pilih Cookware” oleh @mamahgajahmemasak, saya langsung tertarik untuk menyimak penjelasan yang akan diberikan. Narasumbernya adalah seorang alumni Teknik Material ITB yang kemudian melanjutkan studi magisternya di Inggris (ini info tambahan dari saya sih, karena dulu pernah berinteraksi dengan beliau dalam urusan jastip, hehe ...). Dengan latar belakang keilmuan yang mumpuni, materi yang dibagikan pasti bakal oke punya. 


Material alat masak

Pemaparan oleh Teh Widyastuti, sang narasumber, bermula dari yang paling dasar, yakni material penyusun alat masak. Ada empat material yang biasa digunakan: 

  1. logam, 

  2. keramik, 

  3. polimer, dan 

  4. komposit (gabungan dua jenis material untuk mendapatkan keunggulan dari masing-masing material penyusun).


Sebelum melangkah lebih jauh, ada poin penting yang ditekankan oleh Teh Widya. Pertama, semua material saling melengkapi. Tidak ada yang paling superior. Sesuaikan pemilihan kita dengan keperluan (tujuan yang ingin dicapai) dan budget. Duh, ini harus digarisbawahi, nih. Terkadang--atau sering--kita termakan oleh klaim yang mengunggulkan satu material, sampai-sampai menganggap rendah material lain. Kedua, harga material bagus memang lebih mahal, tetapi produk mahal belum tentu dibuat dari material yang bagus. Dengan kata lain, jangan mudah tergiur oleh merek!


Sekarang kita bahas satu-satu, ya. 


Logam 

Logam yang biasa dipakai sebagai bahan pembuat alat masak adalah aluminium, stainless steel/baja antikarat, dan yang sedang hit, cast iron. Ada pendapat bahwa penggunaan logam untuk memasak kurang baik karena bersifat reaktif terhadap asam dan garam. Teh Widya menganggap hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena kuantitas asam dan garam yang kita pakai untuk memasak, kan, tidak banyak. Kita tidak menggunakan satu liter air lemon, misalnya. So, no worries about using metal.


Untuk setiap jenis logam, ada pro kontranya. Saya coba rangkum di bawah ini, ya.

Jenis logam

Pro 

Kontra 

Aluminium 

Ringan 

Mudah panas

Mudah penyok

Buram 

Baja antikarat

Tahan lama, tidak mudah rusak

Jika kotor, tinggal diamplas

Agak lengket

Cast iron

Tahan di suhu tinggi

Berat 

Perawatan sulit 

Mudah berkarat, tetapi bisa diamplas

Untuk panci baja antikarat, ternyata kualitasnya tergantung dari perbandingan campuran krom dan nikel serta ketebalan plat--karenanya ada istilah “grade”. Makin tinggi persentase nikel dan makin tebal plat, makin baik kualitas panci. Panci pun lebih tahan lama. Maka dari itu, ungkapan “ada harga, ada rupa” berlaku untuk kasus ini, ya. Pesan tersirat: jangan pelit-pelit amat, lah! Wkwk ….

Nah, Teh Widya memberikan tips untuk mengecek kualitas panci kita. Caranya, dekatkan magnet ke panci baja antikarat. Kekuatan menempelnya magnet mengisyaratkan kualitas panci. Jika tidak menempel sama sekali, artinya panci kita termasuk yang berkualitas baik. Jika masih menempel, ya tidak apa-apa. Masih bisa digunakan, kok. Kan, masih berfungsi dengan baik. 

Tips berikutnya adalah untuk mengecek apakah panci kita sudah ter-seasoned dengan baik atau belum. Pertama, panaskan panci. Setelah itu, cipratkan air. Bila bentuk bulir air terjaga dengan baik, berarti panci kita sudah oke. Sebaliknya, jika tersebar, kita masih perlu untuk men-season panci kita dengan minyak. 


Soal seasoning, silakan cari sendiri, ya. Saya pun belum terlalu paham. Hehe …. 


Keramik (ceramic coating)

Alat masak berlapis keramik tidak mengandung polimer sehingga bisa dimasukkan ke dalam oven. Sayangnya seiring dengan banyaknya penggunaan, sifat antilengketnya akan makin berkurang karena berpori. Hal ini terjadi kurang lebih setelah satu tahun pemakaian.


Yang menarik, di madeincookware.com disebutkan bahwa ceramic coating adalah lapisan berbahan dasar silikon berukuran nano (sol-gel). Lapisan ini antilengket dan mengilat layaknya keramik sehingga dinamakan demikian. Sol-gel adalah minyak silikon yang diresapkan ke dalam pelapis material logam dan akan lepas saat digunakan. Setiap kali memasak, lepasnya minyak silikon akan menciptakan permukaan antilengket sehingga dapat mengurangi penggunaan oil spray, mentega, atau minyak. Namun, jika lapisan silikon ini terdegradasi akibat pemakaian, sifat antilengketnya juga ikut hilang. Persis seperti yang disampaikan oleh Teh Widya.

Granite dan marble coating

Keduanya adalah pelapis yang terbuat dari campuran keramik dan polimer. Karena mengandung polimer, perlakuan untuk alat masak ini sama dengan panci atau wajan antilengket berlapis polimer. Penjelasan lebih lengkap tentang perlakuan yang benar akan dibahas setelah ini, ya. Maka itu, baca terus hingga selesai. Sip!


Oh iya, sebagaimana sudah kita bahas di atas tentang kualitas panci baja antikarat yang ditentukan oleh persentase nikel, kualitas granite dan marble coating tergantung dari persentase keramik. Makin banyak keramik di dalam campuran, lapisannya akan makin keras dan kasar. 


Polimer 

Kalau menyebut wajan antilengket, merek apa yang langsung muncul pikiran pertama kali? Ya, Teflon! Teflon adalah merek untuk bahan kimia sintetis politetrafluoroetilen (PTFE). Material ini populer karena ketahanan yang baik di suhu tinggi, mudah dibentuk, dan tidak mahal. Sayangnya, merek Teflon mulai meredup karena maraknya artikel yang mengatakan bahwa material ini berbahaya dan bisa menyebabkan kanker. 


Padahal, bukan begitu kenyataanya. Pada dasarnya polimer PTFE stabil dan aman untuk memasak. Hanya saja ketahanannya tidak setinggi logam dan keramik. Menurut sebuah artikel di healthline.com berjudul “Is Nonstick Cookware Like Teflon Safe to Use?”, lapisan Teflon aman jika kita memasak di bawah 300°C. Lebih dari itu lapisan akan terurai dan melepaskan senyawa beracun ke udara. Oleh karenanya, gunakan alat masak Teflon untuk masakan dengan suhu rendah hingga sedang. Do not overheat! Yang berikutnya, jangan pakai sutil keras--gunakan sutil kayu, silikon, atau plastik--dan jangan masak yang keras, misalnya tulang atau duri ikan, untuk mencegah rusaknya lapisan Teflon. 


Sebagai tambahan informasi, saya mengambil beberapa poin penting lain dari artikel yang sama di healthline.com. Apa saja?

  1. Jangan memanaskan wajan yang kosong. wajan kosong akan panas dalam beberapa menit saja sehingga berpotensi melepaskan uap polimer ke udara. Pastikan ada minyak atau makanan di atas wajan sebelum menyalakan api. 

  2. Jaga ventilasi udara di dapur, bisa dengan menyalakan exhaust fan atau membuka jendela agar uap hilang.

  3. Cuci dengan hati-hati. Gunakan spons yang lembut, sabun, dan air hangat. Hindari penggunaan sabut baja atau sabut gosok yang bisa menggores lapisan Teflon.

  4. Ganti alat masak lama yang sudah rusak. Jika kita sudah menemukan banyak goresan, lapisan terkelupas, pecah/sumbing di alat masak Teflon kita, jangan ragu untuk membuangnya. Ada alasan untuk membeli yang baru, deh #eh.


Selain empat material di atas, ada juga material lain yang belum disebutkan di awal: kaca dan enamel coating.


Kaca 

Alat masak berbahan kaca tidak konduktif sehingga membutuhkan waktu lama untuk mulai panas. Namun, begitu panas, dia bisa menahan panas dengan lama. Material kaca aman, inertia (tidak bereaksi), dan kuat. Kekurangannya, kita harus ekstra hati-hati karena mudah pecah--tentu saja.


Enamel coating

Enamel adalah glasir cat yang digunakan untuk melapisi cast iron (paling umum), baja, atau keramik. Glasir cat kemudian dibakar pada suhu tinggi untuk memperkeras lapisan. Karena itu, alat masak berlapis enamel sangat tahan suhu tinggi. Kelemahannya, kalau jatuh, lapisan enamel akan pecah. Walau tidak mengurangi fungsi--asal gompalnya tidak berada di bagian dalam--, tentu akan mengurangi estetika, ya. Hehe …. Kalaupun ternyata gompal ada di bagian dalam, menurut Teh Widya, masakan kita akan berbau besi sedikit karena logam sudah tidak lagi terlindungi. 


Penutup

Setiap material memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, gunakan sesuai keperluannya, misal wajan antilengket untuk memasak tumisan dan telur goreng, panci aluminium untuk mi rebus, panci enamel untuk sop, dan panci baja antikarat untuk air bersih. Saya? Berhubung cuma punya panci baja antikarat dan wajan antilengket, saya pakai itu untuk semua keperluan. Bahkan untuk masakan berkuah yang butuh tumisan bumbu, saya langsung menuangkan minyak di panci baja antikarat demi menghemat cucian perabot--dari semua rangkaian memasak, bagian cuci-mencuci adalah yang paling saya benci. Dishwasher, mana dishwasher.


Jangan lupa perhatikan budget juga. Tidak perlu membeli merek sultan jika tujuan sudah tercapai menggunakan alat masak merek rakyat. Eh, kalau ada uang lebih, sih, silakan saja. Sultan mah bebaas.


Perhatikan juga cara penggunaan dan perawatan setiap material agar berfungsi optimal dan berumur lama. Jangan-jangan panci dan wajan kita cepat rusak karena kecerobohan kita, bukan karena materialnya yang tidak bagus. Percuma membeli alat masak mahal jika umurnya singkat saja, 'kan? 


Semoga artikel ini bisa menjawab segala kegalauan yang pernah ada, ya. Selamat memilih alat tempur masak dengan pertimbangan yang baik dan bijaksana.  


Salam sutil!