Friday, May 20, 2022

Mengenal Tiga Kudapan Indonesia Peninggalan Belanda

Sebagai bangsa, bisa dikatakan Belanda tidak memiliki tradisi kuliner yang kuat. Sejauh pengamatan saya (dan hasil browsing), jarang sekali kita bisa menyebutkan nama masakan khas Belanda, selain stamppot. Stamppot sendiri adalah makanan yang sangat sederhana karena bahan dasarnya hanya kentang dan sayuran, misalnya wortel, bayam, atau kembang kol. Cara memasaknya pun mudah: kentang dan sayuran direbus dalam satu panci, lalu dilumatkan bersama-sama. Mentega, susu, dan bumbu-bumbu, seperti garam dan merica ditambahkan belakangan. Sungguh menghemat cucian piring. Sebagai sumber protein, kentang lumat ini bisa dimakan bersama rookworst (sosis asap), bola-bola daging, ikan, ayam, hingga ikan dan keju.

Makanya, sulit jika diminta untuk menulis tentang makanan khas kota masing-masing demi menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini. Iya, iya, Belanda bukan kota, tapi coba bayangkan, deh, dari skala negara saja sulit, apalagi skala kota?
Untungnya dalam hal kudapan, Belanda punya beberapa yang bisa dimasukkan ke dalam daftar harus-banget-dicoba kalau kita berkunjung ke negeri kincir angin ini. Sebut saja, poffertjes dan stroopwafel. Ada juga tradisi makan oliebollen yang baru dijajakan di tiga bulan terakhir setiap tahun dan menjadi hidangan khas tahun baru.

Tidak, saya tidak akan membahas soal kudapan khas Belanda karena setelah mencoba langsung, semuanya jadi biasa saja. Tidak ada yang benar-benar sampai ke hati #tsaah. Jadi, apa, dong?

Hampir lima tahun tinggal di Belanda membuat saya sadar, irisan budaya Indonesia dan Belanda—mengingat sejarah panjang keduanya—terdapat pada banyak hal. Tak ketinggalan, akulturasi juga terjadi di bidang kuliner. Makanan Indonesia diadaptasi oleh orang Belanda, vice versa. Makanya, menu Indonesia seperti sate, lumpia, nasi/bakmi goreng, lazim dijumpai di restoran atau supermarket. Sebaliknya, makanan Belanda diadaptasi di Indonesia dan disesuaikan dengan lidah lokal. Ada yang masih mirip dengan bentuk aslinya, bahkan namanya pun mirip. Namun, ada juga yang wujudnya berbeda meski namanya sangat "Londo". 

Nah, kali ini kita akan mengenal kategori kedua: kudapan Indonesia yang berakar dari Belanda. Hmm … apa saja, ya? Yuk, kita lihat satu-satu sambil membandingkan versi adaptasi dan aslinya!


Kastengel, Kaasstengels, dan Kaastengels

Masih dalam suasana lebaran, pasti kita akrab dengan kue kering yang satu ini. Kastengel adalah kue istimewa yang kerap hadir saat perayaan hari besar keagamaan di Indonesia, terutama Idulfitri dan Natal. Kue kering ini kental dengan cita rasa keju yang juga menjadi parameter harganya. Makin ngeju—biasanya penjual memakai campuran keju cheddar dan Edam di dalam adonan—makin mahal harganya.

Entah dorongan dari mana, tahun ini untuk pertama kalinya saya membuat kastengel sendiri. Mumpung ada di Belanda, negerinya keju, saya bisa dengan mudah mendapatkan keju betulan—bukan yang dicampur dengan macam-macam bahan lain (processed cheese) seperti yang disebut "keju" di Indonesia. Sebagai informasi, di Belanda umumnya penamaan keju merujuk pada lamanya waktu keju disimpan. Makin lama, keju akan makin keras dan makin kuat rasa dan bau yang dihasilkan. Dari muda ke tua, namanya adalah jong, jong belegen, belegen, extra belegen, oud.

Soal resep kastengel, jangan harap kita akan mendapatkan versi aslinya sebab kue ini memang tidak eksis di Belanda. Dengan kata lain, kastengel itu bisa-bisanya orang Indonesia dalam membuat resep! Mungkin waktu itu orang Indonesia terinspirasi dari orang Belanda yang membuat kue kering berbahan dasar keju ini.

Eh, jadi gimana? Di Belanda enggak ada kastengel, tapi orang Belanda membuat kastengel?

Kastengel asli Belanda berbeda bentuknya dengan yang kita kenal di Indonesia. Malah sebenarnya ada dua jenis: kaasstengels (dengan dua s) dan 
kaastengels (dengan satu s). Nah, lo, apa bedanya?

Bagai anak kembar nonidentik yang namanya hanya berbeda satu dua huruf (foto kastengel dan kaasstengels: Canva, kaastengels: topking).

Kaasstengels adalah cheese stick (kaas = keju, stengel = stick) yang terbuat dari kulit pastry yang dipotong memanjang dan diberi taburan keju. Terdengar gampang, tapi kalau membuat sendiri, hasilnya tetap tidak seenak membeli di toko. Ha-ha-ha. Menurut blog orang, kaasstengels bisa dibeli di bakkery, tapi saya, sih, cukup membeli di supermarket. Itu pun sudah enak, kok. Garing, gurih, dan wangi khas keju bikin ketagihan. 

Adapun kaastengels adalah makanan serupa lumpia, tapi alih-alih campuran daging/sayur, bagian dalamnya diisi keju (kaas berarti keju). Bisa jadi justru orang Belanda yang terinspirasi dari orang Indonesia (yang juga mengadopsi dari Cina) untuk menggoreng keju favoritnya dengan bungkus kulit lumpia. Di luar garing kres kres, di dalam keju lumer. Duh, membayangkannya sudah menerbitkan air liur. YummyKaastengels biasanya dijual di kedai sebagai camilan pendamping minuman. Lucunya, kaastengels sebenarnya merupakan merek dagang. 

Kastengel (tanpa dua a dan dua s) ala Indonesia malah tidak menyerupai keduanya. Jadi, tidak tepat bila ada yang bilang, kastengel berasal dari Belanda. Walau namanya ke-Belanda-Belandaan, kastengel itu asli Indonesia. Keju yang dipakai juga keju yang ada di Indonesia. Yang diimpor dari Belanda hanya keju Edam yang tergolong jenis keju tua—dan membuat harga kastengel biasanya paling mahal dibandingkan jenis kue kering lain. Tempo hari saya menggunakan keju belegen yang lebih muda untuk mendapatkan rasa keju yang lebih soft. Walau begitu, tetap enak, dong. Sayangnya stok di rumah sudah keburu ludes sebelum sempat difoto. He-he-he. 

Lekker Holland dan Boterkoek

Saya baru tahu nama kue ini saat browsing resep di Cookpad. Konon kue ini sempat hits di Indonesia. Jujur saya agak mengernyitkan dahi sebab dalam bahasa Belanda, lekker berarti enak dan Holland adalah sebutan untuk Belanda. Jadi, arti nama kue ini "Belanda enak" gitu?

Baru setelah bertanya pada Om G yang serba tahu, ternyata kue lekker Holland diadaptasi dari boterkoek. Kalau itu, sih, saya tahu karena sudah pernah mencicipi rasanya. Deskripsi kue lekker Holland di resep mirip dengan boterkoek—renyah di luar, lembap dan padat di dalam.

Tingkat kemiripan 90%, lah, ya (foto lekker Holland: fibercreme, foto boterkoek: Canva).

Meski demikian, dari segi resep pastinya tidak persis sama. Namanya juga adaptasi. Alih-alih memakai 100% mentega (boter = mentega, koek = kue), kue lekker Holland memakai campuran mentega dan margarin. Untuk mengompensasi rasanya gurih, ditambahkan susu bubuk, padahal resep asli tidak menggunakan susu sama sekali. Lagi pula, di sini susu bubuk biasanya hanya dikonsumsi bayi dan batita (bukan untuk campuran kue).

Bagaimana dari segi rasa? Apakah ada perbedaan signifikan? Sayangnya saya tidak bisa membandingkan karena belum pernah mencoba kue lekker Holland. Yang jelas di lidah saya, boterkoek itu tipe kue yang dimakan-sedikit-aja-udah-enek, cocok untuk menjadi teman minum kopi. Teksturnya yang padat membuat boterkoek lebih bisa menjadi pengganjal perut kala lapar dibandingkan tipe kue seperti bolu chiffon yang kinyis-kinyis. Dengan catatan, jumlah yang dimakan sama, ya. He-he-he.

Onbekuk dan Onbijtkoek

Kue ketiga ini adalah yang paling mendekati asli dari rupa, rasa, dan nama. Diadaptasi dari kata ontbijtkoek, onbekuk menggunakan rempah-rempah, khususnya kayu manis dan cengkeh, dalam adonannya. Bisa ditebak, aromanya khas sekali.

Sesuai namanya, ontbijtkoek biasa disantap untuk sarapan (ontbijt = sarapan/makan pagi, koek = kue). Di supermarket pun, kue ini bisa ditemukan berdampingan dengan aneka selai, meses, madu, dan crackers yang biasa ada di meja makan saat sarapan. Meski lidah Indonesia akrab dengan rempah, saya kurang suka ontbijtkoek, justru karena aroma dan rasa rempah yang sangat kuat.

Lucunya saat saya mencari resep onbekuk di Cookpad, hanya ada tiga resep. Begitu saya ketik ontbijtkoek, eh, malah banyak. Ha-ha-ha. Ini membuat saya penasaran, bagaimana orang Indonesia melafalkannya? Kan, bahasa Indonesia dilafalkan sesuai penulisannya. Aslinya, sih, dia dibaca /onbaytkuk/. Entah, tapi sepertinya sebutan "bolu rempah/bolu spekuk" lebih aman bagi orang Indonesia daripada lidah keseleo atau timbul miskomunikasi, kan?

Yang ini bak pinang dibelah dua (foto onbijtkoek: Wikipedia, onbekuk: sajiansedap).

Penutup

Tentu masih banyak makanan Indonesia yang diadaptasi dari Belanda. Mungkin juga resepnya diciptakan di Indonesia oleh orang Belanda dengan memakai bahan lokal, lalu dinamakan dengan bahasa Belanda dan masih dipakai hingga sekarang. Bisa jadi kita tidak sadar saat memakannya, apa lagi yang namanya sudah memakai bahasa Indonesia. Yang pasti, akulturasi dalam hal makanan menambah kekayaan kuliner Indonesia. 

Ah, jadi kepingin wiskul. Kapan-kapan kita wiskul bareng, yuk, Mah! 




Wednesday, May 4, 2022

Serunya Berlebaran di Tanah Rantau

Allaahuakbar Allaahuakbar Allaahuakbar. Laa ilaahaillallaahu wallaahuakbar. Allaahuakbar wa lillaahilhamd.


Gema takbir berkumandang di Hall X2 gedung X TU Delft. Setelah dua tahun absen—tahun lalu ada, tapi jumlah jamaah dibatasi dan safnya berjarak—akhirnya tahun ini warga muslim Delft dan sekitarnya bisa berkumpul kembali seperti layaknya masa prapandemi untuk melaksanakan salat Idulfitri. Jamaahnya memang enggak sebanyak dulu, mungkin ada faktor jumlah mahasiswa yang berkurang juga. Banyak keluarga yang kami kenal sudah kembali ke tanah air (dan kami segera menyusul).

Meski begitu, suasananya, sih, masih tetap sama. Haru banget rasanya bisa salat dengan saf yang rapat, salam, cipika cipiki, foto bersama, mengobrol, dan bercengkerama. Anak-anak juga bebas berlarian bersama teman-teman yang mungkin baru saling kenal.

Suasana salat Idulfitri di Delft

Foto bersama dulu setelah salat

Drama pagi

Awalnya saya enggak berharap bisa mengikuti salat karena terlambat berangkat dari rumah. Nothing to lose. Saya salah membuat perkiraan waktu memasak makanan ringan yang akan dibawa dan lupa mengecek jadwal kereta! Duh, ini fatal banget, sih, karena kereta di sini, kan, pada umumnya—kalau enggak ada major force—datang dan pergi tepat waktu. Ternyata bila saya tepat naik kereta pukul 08.30, saya masih bisa naik bus ke lokasi, tapi bila naik kereta berikutnya pukul 08.40, saya harus jalan kaki (yang lumayan jauh, 1,1 km) dan bisa jadi ketinggalan salat berjamaah.

Pagi hari di kampus TU Delft
 
Alhamdulillah tsumma alhamdulillah, begitu sampai di stasiun dan berjalan cepat ke peron 5, kereta arah ke Delft baru saja tiba! Saya berdua Milie cepat-cepat menaiki tangga dan masuk ke dalam kereta. We made it! Sayangnya, ada yang enggak terpikirkan. Kemarin hari Senin dan bus arah ke kampus penuh! Hahaha. Awalnya saya sempat takut enggak kebagian tempat. Namun, lagi-lagi dengan pertolongan Allah kami bisa masuk meski harus berdiri (padahal busnya tipe bus gandeng, lo, tapi masih penuh juga). Akhirnya kami bisa tiba sebelum salat dimulai, bahkan lebih cepat daripada suami yang bersepeda dengan membawa Mika dan Maqi.

Halalbihalal yang dinanti

Overall things were back to normal. Enggak cuma salatnya, tapi juga makan-makannya! Yummy! KMD memang juara kalau soal mengadakan makan bersama. Sebagian besar hidangan dibawa oleh jamaah yang dikoordinasikan oleh pengurus. Ada yang membawa makanan utama, juga makanan ringan dan minuman. Tak lupa menu untuk anak-anak.

Mau makan? Antrian yang tertib dulu.
 
Semuanya enak! Yang pasti bisa mengobati kerinduan akan hidangan khas lebaran di tanah air, apalagi bagi para mahasiswa yang pastinya enggak masak sendiri. Mulai dari lontong opor, tumis buncis, semur tahu, hingga sate Padang dan batagor, bebas disantap. Nambah berkali-kali pun boleh. Dibungkus untuk dibawa pulang juga silakan, malah diwajibkan karena sisanya banyak banget. Alhasil, bawaan pulang jauh lebih berat daripada waktu pergi. Hahaha.

Foto keluarga: wajib!

Oh iya, lebaran enggak lengkap tanpa foto keluarga, dong. Tahun ini enggak perlu pakai bantuan tripod mini yang ditaruh di atas meja kursi tinggi lagi, deh. Fotonya pun di luar ruangan. Ihiy!

Foto keluarga terbaru

Ada Milie yang mulai pandai bergaya—entah dia tiru gayanya siapa karena saya enggak begitu. Ada Mika yang setia dengan gaya cool-nya. Ada Maqi yang masih berwajah datar meski kalau difoto sendiri atau bersama para kakak, dia langsung pasang gaya kepala miring dan tersenyum lebar. Tentu ada Papa dan Mama yang gaya dari foto ke foto enggak berubah. Hahaha. Foto wajib, done!

Penutup

Walau di tanah rantau, jauh dari sanak saudara, bukan berarti Idulfitri dilalui dengan sepi. Berkumpul dengan teman sesama muslim, sekaligus (kebetulan) sebangsa setanah air enggak kalah seru, lo. Kapan lagi, kan, halalbihalal bawa alat makan sendiri? Apalagi kalau berkumpul dengan muslim dari negara lain, wah, itu lebih seru karena kita benar-benar merasa dipersatukan oleh akidah, bukan oleh alasan lain. Tentunya kita jadi bisa mencicipi makanan khas negara tersebut. Mudah-mudahan Allah beri kesempatan untuk merasakannya pada Idulfitri yang entah kapan. Hehehe.

Untuk sekarang sekali lagi, Selamat Idulfitri—bukan Idul Fitri—1443 H. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim. Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kita selama Ramadan dan memudahkan kita untuk melanjutkannya sampai bertemu Ramadan tahun depan. Insyaallah. Mohon maaf lahir batin, ya!