Catatan Shiper: Misi 3. You Are What You Eat

Yeay! Perjalanan para shipers sudah masuk misi 3. Kali ini topiknya adalah makanan. Topik ini sangat menarik, terlebih saat ini saya sedang underweight alias kuyuuus. 

Apa pun yang kita makan akan memengaruhi kesehatan. Tidak hanya jangka pendek (perubahan berat badan, misalnya), tetapi juga jangka panjang. Penyakit-penyakit degeneratif, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung erat kaitannya dengan pola hidup. Selain olahraga (misi 1) dan kesehatan mental (misi 2), konsumsi harian juga adalah elemen penting dari pola hidup sehat. 



Dalam misi 3, Ayunda Rohmah memberikan materi dari dasar, yakni fungsi makanan bagi tubuh, lalu jenis-jenis nutrisi dalam makanan berikut contoh sumbernya. Berikutnya, ada penjelasan tentang isi piringku. Isi piringku adalah panduan yang dikeluarkan dan digalakkan oleh Kementerian Kesehatan. Dalam satu kali makan, harus ada empat komponen di piring: makanan pokok (karbohidrat), lauk pauk (protein, lemak), sayur, dan buah (vitamin, mineral, serat). Semua nutrisi harus terpenuhi dalam jumlah yang sesuai. Empat sehat lima sempurna is sooo out of date

Semua nutrisi harus terpenuhi secara proporsional (gambar: P2PTM Kemenkes RI)

Kalori, oh, kalori

Para shipers dibekali pengetahuan tentang kebutuhan kalori bagi tubuh serta cara menghitungnya. Ini penting untuk mengetahui kecukupan jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh setiap hari. Bila kita punya target menurunkan atau menaikkan berat badan, kita harus mampu mengukur jumlah kalori ini. Kita bisa menggunakan aplikasi yang sesuai untuk membantu mencatat makanan yang dimakan, lalu menghitung jumlah kalorinya.

Versi saya

Selama tiga hari, para shipers diminta untuk mencatat makanan yang dimakan. Punya saya masih jauh dari panduan isi piringku, hiks. Masih lebih banyak karbohidrat dibandingkan sayur. Buah juga dimakan terpisah, biasanya untuk sarapan atau kudapan. Lebih karena faktor kebiasaan, sih.

Hari ke-1


Hari ke-2


Hari ke-3

Processed food

Di zaman modern, teknologi dalam industri makanan mengolah bahan makanan dan menambahkan bermacam zat (pewarna, perasa, pengawet, dll). Kadang, saking banyaknya bahan turunan atau sintetik, rasanya jadi terlalu artifisial. 

Tanpa kita sadari, makanan kemasan juga rentan mengandung banyak garam, gula, dan lemak, padahal ketiganya kita konsumsi dari banyak sumber dalam satu hari. Karena itu, penting untuk menjadi konsumen cerdas dengan membaca label nutrisi makanan pada kemasan. Konsumsi berlebihan akan berefek buruk bagi kesehatan.

Sayangnya, di Indonesia masih banyak makanan kemasan yang tidak memiliki label nutrisi, terutama yang diproduksi oleh industri rumahan, kecil, dan menengah. Semoga pemerintah bisa memfasilitasi analisis makanan dengan harga murah (bahkan gratis) supaya konsumen dapat makin waspada terhadap nutrisi yang dikonsumsi. 

Contoh label nutrisi makanan kemasan

Masak, dong!

Saya percaya makin banyak bahan tambahan dalam makanan olahan, makin sedikit manfaat yang bisa diambil tubuh. Makanya, saat membeli makanan, saya memilih yang komposisinya lebih sedikit dan lebih "nyata", bukan deretan nama kimia. 

Solusi lebih sehat lagi adalah memasak sendiri di rumah. Ini solusi paling oke. Dengan memasak sendiri, kita tahu dengan pasti bahan-bahan yang kita gunakan, termasuk jumlah garam dan gula. Jangan malas masak, ya! #ngomongkecermin


Next, materi tentang apa, ya?


Post a Comment

0 Comments