Posts with the label Rasa
Showing posts with label Rasa. Show all posts
Showing posts with label Rasa. Show all posts

Sunday, February 27, 2022

Tips Tetap Waras bagi Ibu Rumah Tangga

Ibu rumah tangga rentan terjangkit kejenuhan akibat rutinitas harian dalam mengurus rumah, serta membersamai suami dan anak-anak. Selama pandemi, anjuran #dirumahsaja bisa jadi membuat ibu rumah tangga yang pada dasarnya menjadikan rumah sebagai area utama untuk beraktivitas merasa makin terkungkung. Karenanya, ibu rumah tangga perlu memutar otak agar tetap waras meski tidak punya banyak kesempatan untuk keluar rumah. 

Bagaimana caranya? Yuk, simak tips berikut ini! 

1. Tetap terkoneksi dengan dunia luar

Anjuran #dirumahsaja memang membatasi gerak semua orang, apalagi yang memang berperan sebagai ibu rumah tangga. Namun, itu tidak berarti ibu terisolasi dari dunia luar. Dengan kemajuan teknologi saat ini, ibu dapat tetap terhubung dengan keluarga dan teman melalui telepon, video call, obrolan grup, atau sekadar menyapa di media sosial. 

Walaupun demikian, tetap saja interaksi dengan dunia nyata tidak tergantikan.  Ibu bisa sejenak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan beraktivitas lainnya asalkan tetap mengikuti prosedur kesehatan, ya! Bila ingin pergi ke tempat umum, sebaiknya ibu memilih waktu-waktu sepi agar tidak bertemu terlalu banyak orang sehingga meningkatkan resiko tertular penyakit. 

2. Ubah suasana rumah

Kejenuhan berada di dalam rumah dapat disebabkan ibu melihat pemandangan yang sama setiap hari: mainan anak yang berserakan di lantai, tumpukan baju kotor yang meronta minta dicuci, atau rak yang berdebu setelah belasan purnama tidak dilap. Rasanya waktu 24/7 tidak cukup untuk mewujudkan rumah secantik katalog Ikea, tetapi kalau terus dibiarkan, suasana hati ibu bisa ikut mendung sepanjang hari. Kewarasan ibu pun berkurang.

Untuk mengatasinya, ibu dapat mencoba untuk mengubah suasana rumah, lo. Tidak perlu sampai merenovasi atau mengecat ulang dinding. Langkah sederhana saja sudah cukup, kok, untuk memberi warna baru bagi rumah. 

Letakkan vas bunga (tentu berikut bunganya) di meja makan, di samping televisi, atau di atas rak bersama sederet pigura dan suvenir yang ibu pajang. Gantung hiasan dinding yang senada dengan warna dan gaya furnitur yang sudah ada. Kalau ingin yang no budget, ubah saja tata letak ruangan dengan menggeser furnitur di salah satu ruangan di rumah, misalnya kamar tidur, ruang tengah, atau ruang makan.

3. Temukan kesenangan baru

Coba sebutkan apa saja aktivitas yang identik dengan ibu rumah tangga? Pasti jawaban kita tidak jauh dari memasak, menyapu, mencuci, dan berbagai aktivitas domestik lain. Namun, bagaimana jika ibu rumah tangga juga menekuni bisnis, menjadi content creator, atau mengisi kelas macrame

Banyak berada di rumah sebenarnya adalah kelebihan ibu rumah tangga. Ibu  memiliki (cukup) waktu untuk mencoba hal baru sesuai minat. Jika ditekuni dengan serius, ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan, bahkan utama, lo. 

Makanya, menjadi ibu rumah tangga bukan akhir dari segalanya. Ada banyak pintu kesempatan baru di luar sana yang menunggu untuk dibuka. Yang ibu perlukan hanya kemauan untuk mencari yang paling ibu senangi dan minati. 

Penutup

Peran sebagai ibu rumah tangga dipilih secara sadar oleh sebagian perempuan. Sebagian yang lain menjalaninya karena tuntutan keadaan. Yang mana pun alasannya, peran ibu rumah tangga tidak kalah pentingnya daripada profesi lain. Ia menjaga keseimbangan dan keutuhan keluarganya. Jika ibu oleng, anggota keluarga lain akan ikut oleng. Karena itu, kewarasan ibu rumah tangga harus tetap terjaga. 


Jika kamu juga ibu rumah tangga seperti saya, poin mana yang paling "kamu banget"?


Bonus tips (yang mungkin jadi paling favorit): 


4. Hubungi jasa pesan antar makanan, beli makanan jadi, pesan katering, atau makan di luar. Intinya tidak masak sendiri!

Kadang ibu rumah tangga bosan dengan hasil masakannya sendiri, apalagi bila melihat dapur berantakan dan tumpukan alat masak kotor di bak cuci piring. Sebagai penyegar suasana, sekaligus rehat sejenak dari rutinitas memasak, ibu rumah tangga sangat boleh untuk memakai jasa outsource, lo. Kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin keluarga selama disesuaikan dengan budget bulanan tentunya, ya. 

Tips Tetap Waras bagi Ibu Rumah Tangga

Sunday, February 27, 2022

Saturday, February 19, 2022

Menjadi Ibu Bahagia demi Anak yang Bahagia

Memiliki anak mengubah banyak hal pada diri ibu, termasuk prioritas yang diberikan. Bila sebelum menikah, pusatnya adalah diri sendiri, setelah menikah, ia bergeser menjadi berdua. Namun, begitu memiliki anak, timbangannya menjadi timpang. Anak adalah yang utama, bahkan ada prinsip semuanya akan diberikan demi kebahagiaan anak. Karena itu, tidak heran altruisme dekat dengan sosok ibu.


Altruisme

Singkatnya altruisme berkebalikan dengan egoisme. Namun, sebenarnya paham ini jauh lebih dalam dibandingkan sekadar lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain. Dalam altruisme, individu yang melakukannya—meski sudah memberikan segalanya—tidak mengharapkan balasan atau imbalan dari pihak lain, seperti kasih ibu kepada anaknya.

Sayangnya, paham ini berpotensi membuat ibu tidak bahagia. Ibu merasa kehilangan arah karena fokus dan prioritasnya tidak lagi pada dirinya, tetapi pada anaknya. Ini belum ditambah oleh imbas kesibukan menjalankan rutinitas sehari-hari, baik di dalam maupun di luar rumah. Seakan-akan ibu tidak lagi punya waktu dan ruang untuk dirinya sendiri. Bagi ibu, bisa jadi kebahagiaan dan kepuasan diri telah kehilangan definisinya.

Ibu bahagia, anak bahagia

Kemudian, keduanya menjadi kontradiktif. Ibu selalu ingin memastikan anaknya bahagia, tetapi sudahkah ibu memastikan dirinya bahagia? Ibu memberikan segalanya agar anaknya bahagia, tetapi dirinya belum tentu juga bahagia. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mungkinkah anak bahagia jika ibu tidak bahagia?

Setiap ibu mendambakan anak yang bahagia (ilustrasi: Pixabay)

Sebuah penelitian di Inggris menyimpulkan bahwa ibu yang bahagia akan lebih cenderung mempertahankan keutuhan keluarganya dibandingkan ibu yang tidak bahagia atau ayah yang bahagia. Ibu yang bahagia juga cenderung memiliki dampak lebih besar terhadap kesehatan mental anak saat ia remaja dibandingkan ayah yang bahagia. Dengan kata lain, kebahagiaan ibu berperan besar bagi kebahagiaan keluarga, khususnya anak. Anak bahagia jika ibunya bahagia!

Agar ibu bahagia

Hasil ini menuntun kita pada pertanyaan lain: bagaimana cara menjadi ibu yang bahagia? Anna Mathur, psikoterapis dan penulis buku Mind over Mother, memberikan lima saran agar kita bisa menjadi ibu yang bahagia.

1. Merawat diri

Menjadi ibu seringkali membuatnya abai terhadap kebutuhan diri sendiri, padahal seperti halnya anak, kebutuhan, keinginan, perasaan, ataupun pendapat ibu juga perlu diakui. Setelahnya, ibu perlu menghargai diri atas pilihan yang diambil untuk memenuhi atau memvalidasinya.

Tidak perlu berpikir yang rumit. Tidur cukup dan berolahraga adalah contoh kegiatan merawat diri. Bahkan sesimpel minum dan makan agar tetap waras juga termasuk di dalamnya. Di samping itu, ibu perlu memberikan hadiah kepada diri (self-reward) atas pencapaian-pencapaian kecil. Ini akan membuat ibu merasa dirinya tetap berarti.

Rutin melakukan perawatan wajah juga termasuk merawat diri (ilustrasi: Freepik)

2. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain

Setiap individu cenderung senang membandingkan dirinya dengan orang lain. Tak terkecuali ibu. Meski tak selamanya buruk, hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan kebahagiaan ibu dalam mendampingi anak. Karena itu, lebih baik ibu fokus dengan apa yang ada di dalam rumah daripada terus melihat keluar jendela.

Namun, kalaupun terjadi dan ibu merasakan sesuatu setelahnya, perasaan tersebut harus disadari dan divalidasi, misalnya dengan menuliskannya. Setelah itu, biarkan ia lepas agar hati ibu lebih lapang dan bahagia.

3. Tidak perlu merasa selalu kuat

Istilah “super mom” biasanya dipakai untuk ibu serba bisa. Namun, ibu juga manusia dengan berbagai keterbatasan. Dengan menyadari ini, tidak menjadi masalah (dan ibu tidak perlu merasa gagal dan bersalah) bila ibu meminta bantuan kepada pihak lain. Tidak pula salah bila ibu merasa rapuh sehingga membutuhkan sokongan dari keluarga atau sahabat dekat. Karena itu, penting bagi ibu untuk mempunyai orang-orang terdekat yang dapat memberikan perhatian dan respon hangat kepadanya.

4. Berlatih untuk terus bersyukur

Bersyukur adalah salah satu kunci kebahagiaan. Dengan bersyukur, ibu akan fokus pada apa yang ada saat ini, bukan pada yang belum ada. Bersyukur akan membuat ibu bisa menerima keadaan apa pun meski tidak enak atau tidak diinginkan.

5. Berhenti berpikir dan khawatir berlebihan

Berpikir dan khawatir berlebihan tidaklah sama dengan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Keduanya hanya akan memenuhi diri dengan ketakutan tak berdasar sehingga ibu tidak lagi bisa menikmati hari. Karenanya, ibu harus mampu menyadari tanda-tanda kemunculannya agar segera dapat diatasi.

Penutup

Kebahagiaan anak dan ibu adalah dua hal yang sama pentingnya. Adalah penting bagi ibu untuk mencari titik keseimbangannya agar kebahagiaan kedua pihak bisa tercapai. Ibu yang bahagia akan membesarkan anak yang bahagia pula. Bukankah itu yang kita sebagai ibu inginkan?




Sumber:
Benson, H. 2019. Mom’s Happiness and Family Well-Being. https://ifstudies.org/blog/moms-happiness-and-family-well-being, diakses pada 18 Februari 2022.
Psychologies. 2020. 5 Tips for a Happier Motherhood. https://www.psychologies.co.uk/5-tips-happier-motherhood, diakses pada 18 Februari 2022.

Menjadi Ibu Bahagia demi Anak yang Bahagia

Saturday, February 19, 2022

Saturday, January 15, 2022

Mamah Gajah dan Saya

Pos ini masih tentang blog baru (semoga kamu belum bosan 😁), tepatnya tentang tagline yang saya tulis di bagian header. Itu, tuh, yang ada di bawah judul muttimuti. Yup, "about motherhood and more".

Mengapa saya pilih tagline itu? Tentu alasan paling sederhana adalah karena saya seorang ibu dari tiga anak aktif. It's so obvious that everyone can see it. Namun, haruskah status keibuan saya diperjelas, bahkan dijadikan tagline?

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog perdana di tahun ini, "Tentang Dirimu, Mamah Gajah", pas sekali untuk membahasnya. Meski mendefinisikan diri itu tidak mudah, ada satu sisi yang sampai sekarang terus saya renungi dan resapi maknanya: saya sebagai ibu, sekaligus ibu rumah tangga.



Beratnya jadi mamah gajah

Bagi sebagian orang, mungkin peralihan status menjadi ibu rumah tangga terasa biasa saja, bahkan dianggap wajar. Menikah, lalu hamil, melahirkan, dan membesarkan anak tanpa diduakan oleh pekerjaan di luar rumah adalah kodrat perempuan yang harus diterima dan dijalani. Namun, lain perkara bila yang berada di posisi tersebut adalah seorang mamah gajah. Persoalan ini jadi rumit karena dulu waktu kuliah terbiasa berpikir yang rumit-rumit, setidaknya di mata saya.

Oh iya, untuk kamu yang belum tahu, mamah gajah itu sebutan untuk alumni (atau calon alumni) perempuan sebuah PTN di Bandung (sebut saja, Kampus Gajah) yang akan/sudah menyandang status mamah. Istilah gajah diambil dari lambangnya yang adalah gajah duduk, bukan karena ukuran tubuh, berat, apalagi wajah para mamah mirip gajah. Awas, nanti ada yang tersinggung ðŸĪŦ.

Harapan yang diemban alumni Kampus Gajah ini sungguh tinggi. Mungkin penyebabnya adalah sepanjang sejarah sekolah ini hanya menerima mahasiswa peringkat atas dengan nilai superior. Bahkan waktu zaman orang tua saya menjadi mahasiswa baru di sana—iya, mereka alumni Kampus Gajah juga sehingga kami sebenarnya adalah keluarga gajah 🐘🐘🐘; saya dan suami juga membentuk keluarga gajah jilid 2—spanduk penyambutannya bertuliskan: Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa.

Sebelum pandemi, kamu tidak perlu jadi mahasiswa. staf, atau dosen untuk jalan-jalan keliling kampus (foto: Kampus Gajah).

People expect you to be successful just because you're a top university graduate. Padahal kenyataannya, alumni Kampus Gajah juga sama-sama berjuang dari bawah seperti yang lain. Kesuksesan tidak jatuh dari langit, kan?

Harapan (dan tuntutan) ini berlaku sama, untuk laki-laki dan perempuan. Karenanya, alumni perempuan yang kemudian menikah dan memilih (dengan sadar ataupun terdesak oleh keadaan) untuk menjadi ibu rumah tangga kerap mendapat pertanyaan, "Kok, di rumah aja?" atau "Ga sayang, tuh, udah sekolah tinggi-tinggi, tapi jadi ibu rumah tangga doang?" Merendahkan, kepo, kasihan, dan murni bertanya itu memang berbeda tipis, Mah, setipis helaian rambut dibelah tujuh.

Stigma di masyarakat berpotensi membuat ibu rumah tangga minder. Peran sebagai ibu rumah tangga dianggap cuma-cuma: cuma jadi ibu rumah tangga, cuma di rumah, cuma mengurus anak, cuma jadi tukang antar jemput anak sekolah, dan sederet cuma lainnya. Lebih parahnya, karena ibu rumah tangga tidak digaji dan tidak berpenghasilan, negara menganggap ibu rumah tangga sebagai pengangguran terselubung. Diperhitungkan dalam penyumbang GDP? Tentu hanya mimpi. Walaupun faktanya, mungkin saja ibu rumah tangga memiliki usaha sampingan dan menghasilkan pemasukan bulanan lebih besar daripada pegawai kantoran.

Ibu rumah tangga sesungguhnya punya banyak tangan (gambar: Freepik).

Pandangan umum itu menurut saya kontradiktif karena menjadi ibu rumah tangga itu aslinya berat, Mah. Dia sebenarnya adalah manajer keuangan, pengawas kualitas, ahli gizi, koki, supir, body guard, guru, pendongeng, trainer, dan pengasuh anak dalam satu badan yang sama. Pokoknya harus serba bisa! Tidak ada waktu libur bagi ibu rumah tangga; untungnya masih punya waktu tidur (yang berantakan sewaktu anak masih bayi 😌).

Malangnya, ibu rumah tangga tidak diperhitungkan sebagai profesi yang layak untuk dipilih. Tidak ada, tuh, sekolah/pelatihan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar. Selain itu, tidak ada sertifikasi khusus untuk menyatakan kualifikasi sebagai ibu rumah tangga. Intinya, lulusan universitas yang menjadi ibu rumah tangga harus mencari sendiri cara untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Pergulatan batin seorang mamah gajah

Nah, peran sebagai ibu rumah tangga yang multifaset berimbas pada penerimaan diri saya sebagai ibu. I'm lost in the journey of motherhood and I didn't expect it.

Dulu saya memilih untuk menjadi ibu penuh waktu yang bekerja di ranah domestik semata-mata karena merasa itu yang benar. Alasan sederhana sekali, ya? Namun, kenyataan tidaklah semulus kulit artis Korea ðŸĪŠ.

Ada masa saya tidak menikmati menjadi ibu. Jangan salah sangka. Saya mencintai anak-anak saya, tetapi tetap saja ada yang mengganjal. Jauh di dalam hati, ada bisikan "seharusnya saya tidak di sini, tidak di rumah (saja)" yang membuat saya ingin menanggalkan peran ibu penuh waktu. Namun, untuk melangkah ke luar, ada perasaan bersalah karena itu berarti saya harus rela melepaskan anak dari pengawasan saya. Kaki saya menapak di rumah, tetapi jiwa saya ingin menjelajah. Istilah zaman sekarang: BM (Banyak Mau) 😂.

Momen memegang tangan bayi untuk pertama kali adalah momen berharga bagi seorang ibu (foto: Freepik)

Perasaan ini berlarut-larut, kadang naik, kadang turun. Dia belum benar-benar hilang meski setiap hari saya tetap melakukan segala pekerjaan ibu rumah tangga (yang tidak ada habisnya itu) dan tetap belajar berbagai hal tentang anak dan pengasuhan. Beberapa impian pribadi masih tersimpan, menunggu untuk diwujudkan.

Berulang kali saya mendengarkan nasihat soal ladang amal terbesar bagi perempuan sejatinya ada di rumah: sebagai istri dan ibu. Namun, yang namanya ikhlas mudah untuk diucapkan, sulit untuk dipraktikkan. Walau akal sudah menerima, hati ini belum lapang jua.

Kemudian menjelang kepulangan kami ke Indonesia tahun ini, saya berada pada persimpangan yang mengharuskan saya untuk mulai serius memikirkan wujud peran sebagai ibu. Apakah saya akan menjadi ibu penuh waktu yang bekerja di rumah atau ibu penuh waktu yang juga mengambil peran eksternal? Apakah saya akan kembali ke dunia akademik atau beralih ke yang lain? Jadi bloger, misalnya 😍? Apakah saya akan mengambil peran sebagai home schooler mom atau bekerja sama dengan sekolah dalam mendidik anak?

Pertanyaan-pertanyaan itu menuntut saya untuk tidak lagi menunda proses penerimaan diri sebagai mamah gajah (baca: ibu) seutuhnya. Saya harus segera berdamai dengan diri, dengan keadaan, dengan impian. And it means, now.

Penerimaan diri sebagai mamah gajah

Alhamdulillah kegalauan saya seperti bertemu muaranya Desember lalu, tepatnya di sesi penutup Konferensi Ibu Pembaharu (KIP) yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional. Ibu Septi Peni Wulandani (founder Ibu Profesional) membawakan judul yang ngena banget: “Saya ibu rumah tangga dan saya bangga”. Beliau berbagi pengalamannya dalam meningkatkan kapasitas diri sebagai ibu melalui membaca buku, belajar public speaking, menebar kebaikan, juga mengajak ibu lain untuk sama-sama belajar.

Beliau menekankan pentingnya mengubah mindset soal ketidakberdayaan ibu rumah tangga. Everything begins from your mind. Dengan cara berpikir yang baru, ibu rumah tangga akan keluar dari cangkang yang ia ciptakan sendiri. Ia akan bisa melepaskan ikatan yang membelenggu pikirannya. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti belajar. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak bisa berkarya. Dari ibu-ibu hebat, lahir anak-anak hebat.

Menerima diri adalah salah satu kunci kebahagiaan (gambar: Pixabay).

Meski sebenarnya bukan ide segar, saya menganggap ini cara Allah menguatkan saya. It just came at the right time. Rasanya berbeda karena sekarang saya sedang berbenah diri. Ditambah lagi, pembicara di sesi sebelumnya (juga di KIP) membahas tentang konsep fixed mindset vs growth mindset. Intinya, kita harus punya growth mindset untuk menjadi diri yang lebih baik, dengan kapasitas yang bertambah.

Jadi, apa yang (harus) saya lakukan dalam proses ini? Catatan: saya menulis poin-poin berikut dalam rangka memetakan langkah, bukan merekam pengalaman.
  1. Menanamkan dalam hati bahwa peran sebagai ibu (rumah tangga) adalah takdir Allah yang terbaik. Tidak ada ketentuan-Nya yang salah. Seringnya kekeliruan dalam memahami ada pada diri kita sebagai manusia.
  2. Memandang keluarga sebagai kendaraan yang akan membawa saya ke surga dunia dan akhirat. Menjadi ibu (rumah tangga) adalah bentuk ibadah kepada Allah. Tambahannya, bersyukur! Allah memberikan nikmat berupa keluarga (dengan anak-anak yang sehat) kepada saya.
  3. Memperbaiki niat sebab niat adalah setengah dari ibadah, lalu sering-sering memeriksa kelurusan niat. Lihat rumah berantakan, anak berantem, plus masih harus masak itu berpotensi membuat uring-uringan. Mamah pasti paham banget, deh. Kalau sudah begitu, pasang mode masa bodo dulu 😂.
  4. Mendesain ulang impian. Alih-alih merasa kehilangan impian, saya perlu membuat impian baru sesuai dengan peran sekarang. Mungkin istilah lebih tepatnya, "menyelaraskan impian" sebab seharusnya tidak perlu ada kepentingan baik yang dipertentangkan. Make some time for myself. Finding the right balance is the key.
  5. Mulai sekarang! Ini adalah poin yang paling menohok 😆.

Semoga pada saatnya nanti, saya akan mampu berkata dengan percaya diri, "Saya mamah gajah yang #dirumahaja dan saya bangga".

Penutup

Bagi saya, pergulatan batin dalam menerima diri sebagai ibu dan ibu rumah tangga melewati jalan berliku. Sekarang pun saya masih berproses karena merasa belum 100% ada pada titik menerima seutuhnya. It's okay, I will just take my time as long as I'm walking toward the right direction.

Tagline "about motherhood and more" sebenarnya adalah jangkar peneguh bagi saya selama berproses untuk menerima diri. Saya berharap dengan menuliskan banyak cerita dari sudut pandang ibu yang juga ibu rumah tangga, kaki saya akan makin kuat menjejaki peran ini.

Doakan ya, Mah!



Mamah Gajah dan Saya

Saturday, January 15, 2022

Sunday, November 14, 2021

Mahalnya Harga Kesehatan

"Pah, rumah yang di ujung jalan dijual?"
"Iya, kan istri pemiliknya sakit berat. Butuh biaya buat berobat kayaknya."

Meski hanya ilustrasi, kita pasti familiar dengan situasi demikian. Setidaknya sekali dalam hidup, kita pernah mendengar seseorang terpaksa melepas sebagian (atau seluruh) hartanya demi membiayai pengobatan penyakit. Kita juga sering mendapat pesan berisi ajakan berdonasi untuk pasien yang sedang membutuhkan biaya perawatan di rumah sakit. Jangan-jangan malah kita sendiri yang memiliki pengalaman mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk berobat, bahkan sekadar untuk konsultasi ke dokter.




Akibat sakit

Berdasarkan kenyataan tersebut, wajar bila muncul ungkapan "Sakit itu mahal!". Benarkah? Mari kita ambil contoh tarif pelayanan rawat inap di dua rumah sakit pemerintah, yakni RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta dan RS Hasan Sadikin, Bandung yang saya ambil dari situs masing-masing. Untuk kelas III, kelas terendah, keduanya mematok harga di kisaran Rp300 ribu per hari. Ini belum termasuk obat-obatan.

Biaya rawat inap di RS Cipto Mangunkusumo (sumber: situs web RSCM)


Biaya rawat inap di RS Hasan Sadikin (sumber: situs web RSHS)

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, biaya per hari ini mungkin sama dengan uang makan mereka selama sebulan. Maka dari itu, wajar bila mereka lebih memilih untuk mengonsumsi obat-obatan umum yang ada di pasar, alih-alih mengunjungi dokter. Jika tak kunjung sembuh, mereka akan mendiamkan penyakitnya sampai akhirnya terlalu parah untuk diobati dengan cara atau obat biasa. Padahal nantinya biaya yang dikeluarkan malah akan lebih besar, bahkan bisa berujung pada kematian.

Bagaimana jika yang tertimpa musibah sakit adalah bapak sebagai kepala keluarga? Tentu akibatnya akan lebih dramatis lagi. Nasib satu keluarga menjadi tidak jelas karena kehilangan sumber penghasilan. Akibatnya, baik ibu, maupun anak-anak harus mencari cara untuk bisa bertahan hidup. Efek berikutnya sekolah anak bisa terganggu--bahkan putus di tengah jalan.

Itu baru dari aspek fisik dan materi yang kasat mata. Tak usah berbicara tentang si sakit yang sudah pasti terganggu keseimbangan mentalnya, memiliki anggota keluarga yang sakit juga berpotensi melemahkan mental yang sehat. Mau tidak mau ada perasaan khawatir, sedih, kasihan, takut kehilangan, tidak menerima, dan sebagainya yang mendera anggota keluarga terdekat. Apalagi bila timbul perasaan menyalahkan Tuhan atas takdir sakit yang diberikan, wah, itu berbahaya sekali.

Menjaga kesehatan sebelum sakit

Sayangnya persoalan kesehatan bagi sebagian masyarakat tidak lebih penting daripada urusan perut. Sehat sering baru dianggap bermakna saat sakit. Oh, betapa nikmatnya sehat itu! Begitu sehat, mereka kembali pada kebiasaan lama yang tidak menjaga kesehatan. Ah, manusia memang tempatnya lupa (dan alasan!).

Seharusnya dalam hidup kita mengikuti pakem "lebih baik mencegah daripada mengobati", terutama untuk urusan kesehatan. Caranya antara lain dengan makan makanan bergizi seimbang dan cukup, berolahraga, tidur cukup dan teratur, serta tidak merokok dan minum minuman keras. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa melakukan kewajiban kita dengan sempurna, juga banyak hal lain yang baik dan bermanfaat. Kita juga bisa membersamai keluarga tanpa hambatan dan keluhan.

Di samping kesehatan fisik, jangan lupa untuk memperhatikan aspek mental sebab kesehatan mental mempengaruhi kesehatan fisik. Bagi muslim, dengan mengingat Allah dalam kondisi apa pun hati akan tenang. Selain itu, kita berusaha membersihkan hati dari berbagai penyakit, mengedepankan prasangka baik, dan menerima takdir dengan hati lapang. Bersosialisasi dan berteman juga penting sebab bagaimanapun kebutuhan sebagai makhluk sosial harus dipenuhi.

Satu lagi, menjaga kesehatan pikiran. Dengan terus menggunakan otak untuk berpikir yang bermanfaat, menambah pengetahuan, berbagi ilmu kita akan terus "hidup". Karena itu, banyak lansia tetap sehat di masa tuanya karena selalu mengasah pikirannya, tidak membiarkannya diam.

Penutup

Sebenarnya menjaga kesehatan itu tidak sesulit yang dibayangkan. Tidak perlu pula makanan mewah atau peralatan mahal. Mulailah dengan langkah kecil setiap hari. Jika memikirkan segala manfaat yang bisa diraih dan kegiatan yang dilakukan dengan tubuh, mental, dan pikiran yang sehat, kita akan lebih mudah untuk berubah menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, seharusnya ungkapan yang tepat, bukan "Sakit itu mahal!", melainkan "Sehat itu mahal!". Mahal bukan diukur dengan uang, tetapi dengan keberdayaan diri saat sehat. Yuk, kita ubah cara berpikir kita dan mulai jaga kesehatan sejak sekarang!


Mahalnya Harga Kesehatan

Sunday, November 14, 2021

Thursday, October 21, 2021

Mencapai Ketahanan Pangan melalui Bank Makanan

Di bulan April dua tahun lalu Keluarga Muslim Delft (KMD), sebuah komunitas masyarakat muslim Indonesia di kota Delft, menyewa stan di pasar rakyat yang diadakan dalam rangka Koningsdag (perayaan hari ulang tahun raja). Kami menjual berbagai macam barang--mayoritas pakaian--hasil sumbangan dari seluruh warga KMD. Seluruh keuntungan kemudian disalurkan dalam bentuk donasi ke Voedselbanken Nederland. Voedselbank, yang berarti "bank makanan", adalah lembaga nonprofit yang menyalurkan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Tunggu. Garis kemiskinan? Memangnya di Belanda ada orang miskin?

Meskipun termasuk negara makmur, bukan berarti tidak ada kemiskinan sama sekali di Belanda. Menurut data statistik terakhir di tahun 2020, sebanyak 6,2% rumah tangga memiliki penghasilan bulanan di bawah standar €1090 untuk lajang dan €2080 untuk pasangan. Ini berarti lebih dari satu juta orang dari 17.4 juta penduduk Belanda adalah anggota dari rumah tangga yang tergolong miskin. Yang paling berisiko adalah orang-orang yang berasal dari etnis minoritas, terutama pengungsi dari Syria dan Ethiopia, dan keluarga dengan orang tua tunggal.




Bank makanan di Belanda

Bank makanan hadir untuk menyokong keluarga-keluarga miskin yang memenuhi syarat dengan suplai paket makanan setiap minggu. Bantuan ini tentu bersifat sementara dengan maksimal periode penerimaan tiga tahun saja. Bekerja sama dengan otoritas lokal, bank makanan juga membantu para penerima bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya secara mandiri. Biasanya dalam waktu setahun mereka sudah lepas dari bank makanan.

Tidak hanya membantu keluarga miskin, di sisi lain kehadiran bank makanan turut mengurangi terbuangnya bahan makanan. Mereka bekerja sama dengan perusahaan dan supermarket untuk mengumpulkan produk yang berlebih atau bahan makanan yang tidak habis terjual. Makanan tersebut (dan kadang produk kebersihan juga) kemudian dikemas dalam paket-paket dan didistribusikan kepada para penerima. Hebatnya semua kegiatan dilakukan oleh sukarelawan dengan perannya masing-masing.

Bank makanan adalah bentuk kontribusi masyarakat--dari masyarakat untuk masyarakat--untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan makanan yang cukup, aman, dan bergizi. Terlebih pandemi membuat banyak pekerja kehilangan sumber penghasilan atau mengalami penurunan pemasukan. Akibatnya banyak keluarga yang harus memilih antara membeli makanan atau membayar sewa rumah.

Bank makanan dan ketahanan pangan Indonesia

Menurut FAO, ketahanan pangan adalah "keadaan saat semua orang, pada setiap waktu, memiliki akses secara fisik dan ekonomi terhadap makanan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi makanan demi hidup yang aktif dan sehat". Keberhasilan ketahanan pangan ditandai oleh empat hal: availabilitas, aksesibilitas, utilitas, dan stabilitas. Dari keempat indikator tersebut, bank makanan mengambil peran untuk memastikan sebanyak mungkin keluarga memiliki akses terhadap makanan sehat, terlepas dari bagaimanapun kondisi ekonominya.

Saya berandai-andai bila ide tentang bank makanan ini diterapkan secara masif di Indonesia, tentu akan banyak yang terbantu untuk menyajikan hidangan bergizi bagi keluarga mereka. Artinya, akan semakin banyak pula anak-anak yang tumbuh sehat dan kuat demi generasi masa depan Indonesia yang lebih baik. Setiap usaha berarti, bukan?

Dari hasil pencarian lewat mesin pencari, setidaknya ada tiga organisasi bank makanan di Indonesia, yakni Indonesia Food Bank, FoodCycle Indonesia, dan Foodbank of Indonesia. Ketiganya sama-sama memiliki misi untuk membantu keluarga miskin bebas dari kelaparan. Meski terbilang baru (usianya kurang dari lima tahun), saya senang sekali saat mengetahui sudah ada orang Indonesia yang mengambil inisiatif untuk menerapkan ide tentang bank makanan. Semoga di tahun-tahun mendatang, bank makanan dapat mengambil peran lebih banyak dalam membantu pencapaian ketahanan pangan di Indonesia.

Bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang bank makanan di Indonesia, bisa klik tautan di atas. Siapa tahu kamu tergerak untuk mengambil bagian di dalamnya atau malah mencontohnya untuk diterapkan di daerahmu. Yang itu, sih, juara!

Penutup

Kehadiran bank makanan membantu mempertemukan yang minus (penerima) dan yang surplus (donatur). Dengan kata lain, bank makanan adalah jembatan kebaikan antara dua pihak. Apalagi, semua pihak yang terlibat dalam operasional bank makanan bekerja tanpa dibayar. W-o-w, banget, ya?

Dalam Islam, Allah Swt. akan membalas sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan meski misalnya, hanya sebagai supir armada distribusi paket dari bank makanan atau sesimpel menyumbangkan uang hasil jualan seperti KMD. Karena itu, jangan pernah berpikir apa yang kerjakan itu tidak berarti dalam upaya mencapai ketahanan pangan Indonesia. 

Teruslah menjadi pelaku kebaikan apa pun bentuknya, di mana pun berada. Tebarkan kebaikan dan ajak orang lain untuk sama-sama berbuat baik. Bagaimanapun kebaikan yang terhimpun akan lebih berdampak dibandingkan yang sendirian. Setuju, kan?







Mencapai Ketahanan Pangan melalui Bank Makanan

Thursday, October 21, 2021

Tuesday, September 28, 2021

Hoaks dan Melek Literasi Digital


Seiring dengan makin berkembangnya media digital dan terbukanya arus informasi pascareformasi 1998, kita mengenal istilah baru: hoaks. Sederhananya, hoaks adalah informasi bohong. Entah apa motif yang mendasari pembuat hoaks. Kemungkinannya mulai dari iseng belaka, hingga agenda tersembunyi ala intelejen untuk mengganggu kedamaian dan memecah persatuan--baginya kalau tidak ribut, tidak seru. Apalagi jika kita mengingat masa kampanye Pemilu Presiden yang lalu. Wah, segala macam informasi berseliweran di ruang-ruang obrolan grup, linimasa media sosial, juga portal berita daring, tanpa kita tahu kebenarannya. 

Sebagai penerima informasi, seringkali kita sulit untuk membedakan mana hoaks dan bukan. Banyak juga yang mudah percaya dan merasa penting untuk meneruskannya kepada orang lain. Terutama jika ada redaksi semacam ini di bagian akhir, "Jika Anda merasa informasi ini bermanfaat, bagikan kepada orang terdekat yang Anda cintai," (sounds familiar?). Saya jamin batin kita bergejolak, bimbang--meski sedikit--dalam menentukan apakah akan mengikuti perintah atau tidak. Lebih menyeramkan lagi saat ada embel-embel, "Kalau tidak, Anda akan sial." Duh!


Sebenarnya salah satu trik untuk mengetahui kebenaran suatu informasi adalah dengan mengecek keterangan sumber yang seharusnya tertera. Kalau tidak ada atau tidak jelas sumbernya, kita tidak perlu membuang energi, bahkan untuk membacanya. Trik lain adalah dengan mengetik nama-nama yang biasanya menjadi sumber rujukan informasi di mesin pencari. Apakah yang bersangkutan bukan fiktif dan benar berkompeten di bidang yang dimaksud? Kita juga bisa membuka situs https://turnbackhoax.id/ atau menggunakan aplikasi Awas Hoax untuk mengecek kebenaran suatu berita. 


Melek literasi digital 

Kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit ataupun eksplisit adalah salah satu prinsip literasi digital. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. 


Dalam buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) (dikutip oleh kompas.com), Devri Suherdi menjabarkan pengertian kecakapan, yakni kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya. Oleh karenanya, keterampilan mengoperasikan media digital saja tidak cukup untuk dikatakan melek literasi digital. Perlu perangkat lunak bernama etika dan tanggung jawab yang turut menyertainya.  


Dalam menyikapi tantangan literasi digital berupa arus informasi yang banyak, kita dituntut untuk bijak. Sifat kritis dalam mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat menjadi hal yang krusial. Mau tidak mau kita mengedepankan sifat skeptis sebagai filter pertama saat menerima informasi baru. Sifat kritis juga membantu kita untuk membedakan konten positif dari negatif. Konten negatif yang berisi isu pornografi, SARA, dll adalah tantangan literasi digital yang lain. 


Penutup

Pesatnya perkembangan media digital--terutama di masa pandemi, saat semua aktifitas bergantung pada media digital--memang satu hal yang patut disyukuri. Pertukaran informasi bisa terjadi dalam hitungan detik saja. Kejadian di satu belahan dunia akan segera diketahui orang di belahan dunia lain tanpa perlu menunggu tajuk berita di koran esok pagi. Artinya, dunia bergerak sangat dinamis. Namun, konsekuensinya kita harus senantiasa mengasah sifat kritis agar tidak mudah hanyut oleh arus informasi yang banyak (dan sebagian di antaranya menipu alias hoaks). 


Jadi, siapkah kita untuk melek literasi digital?

Hoaks dan Melek Literasi Digital

Tuesday, September 28, 2021

Tuesday, September 21, 2021

Mengenalkan Alam, Memupuk Literasi Sains

Di dalam konsep Pendidikan Berbasis Fitrah--saya belum menyebut diri praktisi sebab baru menerapkan sedikit saja--titik tekan untuk anak usia 0-6 tahun adalah menumbuhkan fitrah keimanan. Di rentang usia ini anak harus sebanyak mungkin dikenalkan dengan Allah Swt. sebagai Rabb (pencipta) dan dibuat kagum dengan Tuhannya. 

Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan mendekatkannya dengan alam. Mengutip kata Ilma Dina dari Hannah Indonesia, alam adalah works of Allah, sedangkan Al-Qur'an adalah words of Allah. Anak-anak belajar mengenal keagungan Allah Swt. melalui hasil ciptaan-Nya, yakni segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Anak belajar membaca alam, mengenali tanda-tanda alam, serta mengagumi keindahan dan keunikan alam. Semuanya bertujuan untuk menumbuhkan keimanan kepada Allah Swt. 


Bukanlah kebetulan jika hal tersebut sejalan dengan upaya yang sedang digaungkan pemerintah melalui Gerakan Literasi Nasional. Menurut OECD (2016), literasi sains--satu di antara enam jenis literasi yang harus dikuasai anak--berarti pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains. Dengan  mendekatkan anak dengan alam untuk menumbuhkan fitrah keimanan, sesungguhnya kita juga sedang memupuk literasi sains pada anak usia dini. 


Tentunya karena subjeknya adalah anak-anak, pendekatan yang diambil haruslah yang menarik dan menyenangkan. Yang paling mudah adalah mengajak mereka untuk langsung bersentuhan dengan alam. Siapa guru yang lebih baik kalau bukan alam itu sendiri? Tidak perlu jauh-jauh. Kita bisa mulai dari halaman depan atau belakang rumah, teras, bahkan dari selembar kapas basah untuk menaruh butiran kacang hijau. Jika ingin melangkah lebih jauh, kita bisa melakukan kegiatan trekking (penjelajahan alam) seperti yang kami lakukan akhir pekan lalu bersama rombongan Ikatan Alumni ITB Belanda. 


Di era digital--apalagi pandemi--sekarang ini, upaya mengenalkan alam dapat dilakukan juga melalui kelas virtual. Saya merekomendasikan kelas dari @terangkids yang diadakan setiap hari Sabtu sore WIB. Waktunya yang ramah dengan waktu Eropa membuat kami bisa mengikuti kelasnya. Setiap tema dibawakan dengan cara yang menarik. Apalagi sang pembawa acara senantiasa mengembalikan semua kekaguman terhadap alam dan isinya kepada Allah Swt.


Seseru apapun kelas virtual ataupun video yang kita bisa tonton di YouTube, jangan lupakan buku sebagai sumber ilmu yang utama, ya. Apalagi sekarang banyak buku pengenalan sains untuk anak usia prasekolah yang disertai dengan ilustrasi menarik. Orang tua juga bisa ikut belajar bersama anak. Jangan-jangan keduanya sama-sama belum tahu (eh, itu sih saya). 


Bagi sesama orang tua, selamat menstimulasi literasi sains sejak dini! Niscaya fitrah keimanan akan ikut tumbuh jika kita selalu menghubungkannya dengan Allah Swt. Sang Maha Pencipta. Ibarat pepatah "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui", ya, kan?

Mengenalkan Alam, Memupuk Literasi Sains

Tuesday, September 21, 2021

Tuesday, September 14, 2021

Tidak Sekadar Bisa Matematika


Siapa yang sewaktu kecil dulu menghafal perkalian dengan bantuan poster tabel perkalian yang ditempel di dinding? Tos dulu, ah. Saya merasa dulu menghafal tanpa mengerti konsepnya. Tidak ada yang benar-benar mengajarkan perbedaan 1x3 dan 3x1. Yang penting hasilnya sama: 3. Apa jadinya jika kita meminum tiga butir obat dalam sekali telan, padahal aturan di kemasannya ialah satu butir, tiga kali sehari? Bisa-bisa kita kelebihan dosis. Gawat, kan? 

Begitu juga untuk pembagian sederhana, pokoknya hafalkan dulu. Setelah hafal, barulah kita belajar cara pembagian menggunakan kurung. Deretan angka kita tuliskan sampai bertingkat-tingkat--tidak mau kalah dengan perkalian puluhan atau ratusan yang juga berlapis tersusun ke bawah. 

Apakah ada yang salah dengan pembelajaran matematika dasar kita dulu? Di sekolah kita terlalu terpaku dengan angka-angka, soal, dan cara penyelesaiannya seperti yang ada di buku teks. Semuanya ada di atas kertas, bukan di dunia nyata. Jangan heran kita bingung saat melihat resep dalam cc sedangkan skala gelas ukur kita dalam ml. Seberapa banyak kita harus menuang? 

Saya tidak mengetahui seperti apa pengajaran matematika dasar sekarang ini. Semoga saja sudah lebih baik, alias nyata diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun apa fungsinya mengerti penyelesaian soal matematika kalau tidak berguna untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari? Bukankah itu yang dimaksud dengan literasi numerasi? 

Menurut Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017, literasi numerasi adalah bagian dari matematika. Karena sifatnya yang praktis, literasi numerasi juga mencakup bidang lain di luar mata pelajaran matematika. Sebagai contoh, literasi numerasi diterapkan untuk membuat grafik perubahan suhu saat pemanasan air di mata pelajaran IPA, diagram kue profil demografi penduduk di mata pelajaran IPS, atau tabel pemasukan dan pengeluaran di mata pelajaran ekonomi. Semuanya tentu membutuhkan dasar matematika. Karena itu, seharusnya siswa tidak lagi menganggap pelajaran matematika sebagai momok. Wong, untuk menghitung uang saja perlu kemampuan matematika.  

Jika kita melihat hasil penilaian Programme of International Student Assessment (PISA) 2018 untuk kemampuan matematika siswa di pendidikan menengah, Indonesia menempati urutan 72 dari 78 negara. Skornya rendah sekali, yakni 379, di bawah rata-rata 489. Yang lebih menyedihkan, skor tersebut hampir sama dengan skor yang diperoleh 18 tahun sebelumnya. Artinya, dalam kurun waktu hampir 20 tahun--catat, 20 tahun!--tidak ada peningkatan berarti perihal kemampuan matematika. Bagaimana dengan kemampuan baca tulis dan sains? Sami mawon alias sama saja. Wajar karena ketiganya membutuhkan logika berpikir yang baik dan nalar yang terasah.

Dengan literasi numerasi--juga berlaku untuk literasi di bidang lain--yang baik, kualitas hidup seseorang akan meningkat. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan kemampuan numeral yang bagus melindungi seseorang dari pengangguran, penghasilan rendah, dan kesehatan buruk. Bagaimana tidak? Mulai dari kehidupan sehari-hari di rumah ataupun di pekerjaan, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara membutuhkan literasi numerasi. Ibaratnya, mulai dari urusan dapur hingga urusan pemilu terkait dengan kemampuan numeral. Belum lagi yang beken saat pandemi: data berupa grafik pasien positif dan meninggal karena Covid-19. Sekarang kita bisa berasumsi bahwa orang yang masih abai dengan Covid-19 itu mungkin adalah termasuk yang berkemampuan numeral rendah!

Melalui tulisan ini saya mengajak pembaca sekalian untuk bersama mendukung Gerakan Literasi Nasional. Berbicara dari sudut pandang orang tua, upaya kita dapat berupa penyediaan bahan bacaan terkait kemampuan numeral. Jangan hanya dipajang, tetapi juga dibaca, ya! Selain itu kita dapat mulai memasukkan unsur literasi numerasi selama membersamai anak. Banyak hal yang bisa dilakukan, misal berhitung sederhana untuk anak usia dini, menimbang dan mengukur bahan masakan, membandingkan berat dan panjang benda, memperkirakan jarak tempuh, dll. 

Semoga dengan menyemai literasi numerasi dan literasi lainnya sejak kecil, anak-anak kita menjadi generasi masa depan Indonesia yang gemilang. Bisa jadi mereka menjadi penyumbang skor tinggi dalam tes PISA kelak. Mungkin saja, kan? 


Sumber:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Materi Pendukung Literasi Numerasi, Gerakan Literasi Nasional, diakses tanggal 12 September 2021.


Tidak Sekadar Bisa Matematika

Tuesday, September 14, 2021

Tuesday, August 31, 2021

Katakan Tidak Untuk Plagiarisme

 

Di bulan pertama tahun 2014 silam, publik Jepang dihebohkan oleh tembusnya dua artikel ilmiah milik ilmuwan Jepang ke Nature, salah satu jurnal paling bergengsi di bidang sains dan teknologi. Sudah merupakan rahasia umum bahwa yang bisa menerbitkan artikel di sana akan langsung naik kelas, bersanding bersama jajaran ilmuwan top notch dunia. Apalagi topiknya "seksi": sel biasa dapat diubah menjadi sel punca (stem cell) dengan perlakuan stres. Sel-sel ini dinamakan STAP (stimulus-triggered acquisition of pluripotency). Keberhasilan metodenya memberikan harapan akan terwujudnya terapi sel punca untuk kepentingan medis. 


Tidak hanya perihal artikel itu sendiri, publik Jepang terkesima oleh sosok peneliti yang menjadi penulis pertama, Haruko Obokata. Sebagai seorang  wanita, dia laksana berlian di tengah dominasi peneliti pria di Jepang. Semua kualitas baik tampak berkumpul padanya: cerdas, stylish, cantik, tetapi tetap santun khas orang Jepang. Siapa yang tidak dibuat iri bin kagum olehnya?


Namun, lampu sorot media hanya bertahan sebulan saja. Di bulan kedua, laporan soal kejanggalan artikel tersebut mulai terkuak. Tidak ada yang bisa mereproduksi sel yang dimaksud, meski sudah mengikuti prosedur yang dijelaskan di dalam artikelreproducibility adalah syarat mutlak suatu hasil penelitian diterima oleh masyarakat ilmiah.


Tim investigasi pun dibentuk. Bersamaan dengan itu, ada pihak yang melaporkan bahwa dua gambar yang dicantumkan di dalam artikel ternyata diambil dari tesis PhD Obokata di Universitas Waseda. Lebih parahnya lagi, di tesis tersebut Obokata menyalin dan menempel satu paragraf panjang tentang karakteristik sel punca dari situs National Health Institute. 


Tiga bulan setelah investigasi dimulai, Obokata dituduh melakukan plagiarisme, pemalsuan gambar, dan fabrikasi data. Nature menarik kedua artikel milik Obokata dan Universitas Waseda mencabut gelar PhD-nya. Skandal ini tidak hanya memukul Obokata yang kemudian dirawat karena depresi, kepala bagian yang menaungi laboratorium Obokata juga menanggung malu dan memilih gantung diri di tangga kantornyasebuah akhir yang mengenaskan dari suatu penelitian prestisius. 


Bagaimana dengan di Indonesia?


Di sekitar periode waktu yang samakebetulan yang anehtepatnya bulan Februari 2014, dunia akademis Indonesia diguncang oleh kabar penjiplakan yang dilakukan oleh Anggito Abimanyu, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Artikel Abimanyu berjudul "Menggagas Asuransi Bencana" di kolom Opini Kompas dinilai menjiplak tulisan Hotbonar Sinaga berjudul "Gagasan Asuransi Bencana" yang terbit tahun 2006 di media yang sama. Tuduhan plagiarisme ini berhembus setelah muncul sebuah artikel di Kompasiana yang mempertanyakan hal tersebut. 


Selain meminta maaf secara langsung kepada Sinaga, sebagai bentuk komitmen menghargai kejujuran, Abimanyu mengundurkan diri sebagai dosen FEB UGM. Walaupun demikian, dia tidak benar-benar mengakui telah melakukan plagiarismeseperti halnya Obokatamelainkan akibat kelalaian menyimpan fail di komputer sematasebuah keteledoran remeh, tetapi fatal.


Plagiarisme


Dari dua kasus di atas, apa kesamaannya? Ya betul, keduanya terlibat plagiarisme!


Apa sih, plagiarisme? Menurut KBBI daring, plagiarisme (n) berarti penjiplakan yang melanggar hak cipta. Adapun plagiat (n) adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri, jiplakan. Pelakunya disebut plagiator bukan gladiator


Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010, “Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.”


Ilustrasi plagiarisme (sumber: Freepik)


Kita bahas teorinya dulu, ya. 


Ruang lingkup plagiarisme


Untuk menilai apakah tindakan kita termasuk plagiarisme atau bukan, kita perlu mengetahui cakupannya. Situs wikipedia.com memaparkan ruang lingkup plagiarisme yang diambil dari buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah karya Utorodewi, dkk (2007). Suatu perbuatan dikatakan plagiarisme jika:

  • mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,
  • mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri,
  • mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri,
  • mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
  • menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal usulnya,
  • meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
  • meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.


Sebagai tambahan, menurut Panduan Anti Plagiarismharusnya antiplagiarisme, wkwkyang diterbitkan oleh Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, plagiarisme juga mencakup:

  • mengutip kata-kata atau kalimat orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tanpa menyebutkan identitas sumbernya,
  • menggunakan gagasan, pandangan atau teori orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya,
  • menggunakan fakta (data, informasi) milik orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya,
  • menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain seolah-olah sebagai karya sendiri.

Wah, ternyata luas juga, ya. Karena itu, dalam menghasilkan karya tulis, seseorang harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset ke dalam plagiarisme. Yang tidak sengaja saja dilarang, apalagi yang sengaja. Ya, kan?

Tipe-tipe plagiarisme

Ada beberapa tipe plagiarisme. Saya mengambil dari artikel daring di kajianpustaka.com berjudul "Pengertian, Jenis dan Identifikasi Plagiarisme" yang mengutip buku Plagiarisme: Pelanggaran Hak Cipta dan Etika karya Soelistyo (2011). Empat tipe yang disebutkan di sana adalah:

  1. Plagiat ide (Plagiarism of ideas). Karena ide bersifat abstrak, tipe plagiat ini relatif sulit dibuktikan. Lagipula bisa saja, kan, dua orang memiliki ide yang sama dalam satu waktu?

  2. Plagiat kata demi kata (Word for word plagiarism). Pada tipe ini, penulis menjiplak persis kata-kata dari karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Biasanya hal ini terjadi dalam penulisan karya ilmiah. Ada yang merasa pernah melakukannya?

  3. Plagiat sumber (Plagiarism of source). Penulis tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas sumber yang dijadikan rujukan. Jika mengutip dari karya orang lain (penulis kedua) yang dia juga mengutip dari karya penulis lain (penulis pertama), nama penulis pertama juga wajib disebutkan. Ini bagian dari etika juga sih, sebenarnya. 

  4. Plagiat kepengarangan (Plagiarism of authorship). Tipe ini paling tidak tahu diri, menurut saya. Penulis dengan sadar dan sengaja mengakui karya orang lain sebagai karyanya. 

Pola plagiarisme

Di dalam buku yang sama, juga disebutkan beberapa pola plagiarisme. Apa saja?

  1. Plagiarisme total

  2. Plagiarisme parsial  

  3. Autoplagiarisme (self plagiarism)

  4. Plagiarisme antarbahasa

Maksud nomor satu dan dua sudah bisa ditebak lah, ya. Plagiarisme total berarti penulis menjiplak karya tulis orang lain seluruhnya dan mengakui itu sebagai karyanya. Kebangetan nggak, tuh? Teganya … teganya … teganya …. 

Dalam plagiarisme parsial, penulis (hanya) mengambil sebagian dari karya orang lain. Itu bisa berupa pernyataan, landasan teori, sampel, metode analisis, pembahasan, dan atau kesimpulan tertentu tanpa menyebutkan sumbernya. Bisa dikatakan, pada umumnya penulis masuk ke dalam kategori ini. 

Nah, bagaimana dengan nomor tiga dan empat? Menurut saya, autoplagiarisme adalah tipe plagiarisme yang paling "halus”. Penulis mungkin melakukannya dengan alasan, "Itu kan tulisanku juga. Masa' nggak boleh disalin-tempel", padahal ternyata tindakan itu sudah termasuk plagiarisme. Walaupun terkesan janggal saat menuliskan nama sendiri sebagai sumber referensi, penulis harus tetap melakukannya. 

Membaca penjelasan tipe plagiarisme yang terakhir membuat saya mempertanyakan diri sendiri. Jangan-jangan saya pernah melakukannya. Plagiarisme antarbahasa terjadi bila kita menerjemahkan karya tulis dalam bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia tanpa menyebutkan sumbernya. Berhubung biasanya referensi yang saya pakai berbahasa Inggris, bisa jadi dulu saya pernah lalai menuliskan sumbernya. 

Ilustrasi plagiarisme (sumber: Freepik)


Plagiarisme: pelanggaran hukum (hak cipta)  dan etika

Plagiarisme rentan terjadi di dunia akademis. Alasannya, dalam penulisan karya ilmiah, seseorang pasti membutuhkan referensi. Makin kaya referensi yang dipakai, akan makin bagus. Namun, bukan berarti boleh comot sana sini, termasuk mencomot hasil karya sendiri. 

Sampai di sini, kita tentu setuju bahwa plagiarisme adalah bentuk pembajakan karena membajak berarti mengambil hasil ciptaan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizinnya (KBBI daring, 2021). Karenanya, plagiarisme pastilah melanggar hukum sebagaimana tindakan pembajakan di bidang lain. Tidak tanggung-tanggung, menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 sanksi bagi lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan adalah pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). 

Selain itu, ada juga Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2010 yang mengatur sanksi bagi mahasiswa yang terbukti melakukan tindakan plagiat. Sanksinya mulai dari tingkat ringan, berupa teguran, hingga berat, berupa pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa. Untuk mahasiswa yang telah lulus, ijazahnya akan dibatalkan. Sanksi lebih lengkapnya sebagai berikut:

  1. Teguran

  2. Peringatan tertulis

  3. Penundaan pemberian sebagian hak mahasiswa

  4. Pembatalan nilai

  5. Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa

  6. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa

  7. Pembatalan ijazah apabila telah lulus dari proses pendidikan.

Nah, mungkin yang agak berbeda dengan pembajakan pada umumnya, di samping melanggar hukum, plagiarisme juga melanggar etika yang dijunjung tinggi di dunia akademis: kejujuran. Sains dan teknologi itu jujur. Semua fakta dijabarkan dan boleh diuji oleh siapa saja. Bahkan dalam konteks artikel ilmiah, metode yang ditulis harus jelas dan dapat diulang oleh pihak lain untuk memberikan hasil serupa. Maka dari itu, adalah hal yang wajardan memang sudah semestinyakita mendengar seseorang mengundurkan diri dari jabatannya karena terlibat kasus plagiarisme. Well, untuk ukuran orang Jepang sih, salah satu solusinya adalah bunuh diriseperti dalam skandal Obokatakarena tidak kuat menanggung malu. 

Alasan melakukan plagiarisme

Kalau sudah tahu bahwa plagiarisme itu adalah sebuah pelanggaran hukum dan etika, mengapa masih ada saja orang yang melakukannya?

Pertanyaan ini harusnya dijawab dengan survei, hehe …, tetapi berdasarkan Panduan Anti Plagiarism Perpustakaan UGM, ada beberapa faktor pendorong plagiarisme. 

  • Terbatasnya waktu untuk menyelesaikan karya tulisalias dikejar deadline. Makanya jangan suka menunda-nunda! #selftoyor

  • Rendahnya minat membaca dan menganalisis referensi. Jangan males baca, woy! #pasangikatdikepala. 

  • Kurangnya pemahaman tentang kapan harus mengutip dan caranya. Ada nggak sih di matkul TTKI?

  • Kurangnya perhatian guru atau dosen terhadap plagiarisme. Hmm … mungkin perlu ada kelas khusus untuk staf pengajar? Supaya bukan cuma mahasiswa saja yang peduli, dosen juga.

Eh, poin keempat benar terjadi, lo. Salah satu hasil investigasi skandal Obokata mengungkap alasan Obokata melakukan penjiplakan. Katanya praktik tersebut umum di Waseda dan profesornya berkata," ... lagipula tidak ada yang akan membaca tesismu." Yah, walaupun ini benar adanyadan kita juga mengalami, habis lulus langsung menyimpan skripsi di bawah bantalbukan berarti perbuatan menyalin-tempel menjadi boleh.

Ilustrasi plagiarisme (sumber: Freepik)

Tips terhindar dari plagiarisme

Akhirnya kita sampai di bagian terakhir: tips supaya kita terhindar dari plagiarisme. Are you still with me?

Tips yang akan saya berikan sudah saya praktikkan sewaktu menulis tesis magister x (sensor) tahun yang lalu. Kami beruntung memiliki dosen yang sangat peduli tentang plagiarismeterima kasih, Pak. Berikut adalah tipsnya:

  1. Belajar cara mengutip yang benar. Pengutipan ada dua macam: langsung dan parafrase. 

Pengutipan langsung artinya kita mengambil satu (atau lebih) kalimat tanpa mengurangi sedikitpun dari sumber aslinya. Gunakan dua tanda kutip dan cantumkan sumbernya. 

Meski diperbolehkan, terlalu sering melakukan pengutipan langsung juga tidak bagus. Akan lebih baik jika kita melakukan parafrase. Parafrase adalah mengungkapkan ide orang lain dengan kata-kata kita sendiri tanpa mengubah esensi ide tersebut. Percaya, deh, ini butuh latihan.

  1. Selalu cantumkan sumber yang kita pakai sebagai rujukan dengan baik dan benar, lalu tuliskan dalam daftar pustaka di bagian akhir. Ada beberapa gaya penulisan daftar pustaka. Pilih salah satu dan konsisten dengannya. 

Nah, seringkali penulis lupa untuk menuliskan sumber yang lengkap di dalam daftar pustaka, padahal sudah mencantumkannya di bagian isi. Zaman S1 dulu, saya segera menulis semua keterangan di halaman daftar pustaka setelah mengutip di bagian isi. Repot bolak-balik, sih, tetapi wayahna, kata orang Sundaalias, mau gimana lagi. Kemudian saat S2, saya menggunakan Mendeley, sebuah aplikasi pengelola kutipan dan daftar pustaka. Wow, it was really a game changer!

Walaupun saya tidak ingat persisberhubung sudah sekian tahun berlalukurang lebih cara kerjanya sebagai berikut. Untuk yang pernah pakai Mendeley, tolong koreksi kalau ada yang salah, ya. Maklum laptop yang ada aplikasi itu sudah tewas jadi saya tidak bisa kroscek, wkwk …. 

Pertama, kita unggah artikel yang kita mau di aplikasi. Nanti aplikasi bisa langsung mendeteksi judul, penulis, tahun penerbitan, nama jurnal. Kita bisa pilih gaya penulisan daftar pustaka yang kita inginkan. Kedua, menyinkronkan aplikasi dengan Microsoft Word. Dengan begini, setiap kita menulis nama sumber setelah mengutip, keterangan lengkapnya akan otomatis muncul di halaman daftar pustaka. Ketiga, memperbarui tampilan secara berkala.

  1. Gunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme, misalnya Turnitin. Dengan bantuan Turnitin, kita bisa tahu berapa persen plagiarisme karya tulis kita. Kita juga akan tahu di bagian mana, kesamaan/kemiripan terjadi. Canggih, deh.

Penutup

Pembajakan marak terjadi di sekitar kita. Meski ada hukum yang mengatur, penegakannya masih dipertanyakan, termasuk untuk plagiarisme. Apalagi untuk urusan skripsi atau tesis mahasiswa, siapa yang mau memeriksa satu persatu? Akhirnya semua dikembalikan kepada pribadi penulis untuk melakukan pencegahan dari awal. Penulis juga seyogianya mawas diri bahwa plagiarisme adalah satu bentuk pencurian dan pencurian dilarang baik dalam agama maupun secara hukum. Pelakunya akan merasa gelisahjika nuraninya masih bersih. Dia juga pasti akan malu jika ketahuankok, nggak diperlihatkan oleh para koruptor, sih? Kan korupsi juga mencuri. #tanyakanpadarumputyangbergoyang #lalalalala.

Dengan semangat kemerdekaan di penghujung bulan Agustus, saya ingin mengajak teman-teman untuk senantiasa menghargai karya orang lainbaik sudah berwujud maupun masih dalam bentuk idedalam bidang apa pun, tidak hanya karya ilmiah. "Hidup Tanpa Bajakan", seperti tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, adalah prinsip penting yang seharusnya kita miliki. Percaya, deh. Pembajakan tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri. Yuk, hidup tenang dengan mengatakan TIDAK untuk pembajakan!



Sumber: 

Anonim. 2021. Plagiarismehttps://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme, diakses tanggal 30 Agustus 2021.

Goodyear, D. 2016. The Stress test. https://www.newyorker.com/magazine/2016/02/29/the-stem-cell-scandal, diakses tanggal 29 Agustus 2021.

Istiana, P dan Purwoko. 2017. Panduan Anti Plagiarism. http://lib.ugm.ac.id/ind/?page_id=327, diakses tanggal 30 Agustus 2021.

Maharani, S. 2014. Dituding Plagiarisme, Anggito Mundur dari UGM. https://nasional.tempo.co/read/555008/dituding-plagiarisme-anggito-mundur-dari-ugm, diakses tanggal 30 Agustus 2021.

Riadi, M. 2019. Pengertian, jenis, dan Identifikasi Plagiarisme. https://www.kajianpustaka.com/2019/02/Plagiarisme.html, diakses tanggal 30 Agustus 2021.




Katakan Tidak Untuk Plagiarisme

Tuesday, August 31, 2021